It’s A Pleasure to Serve You Right

Jung Hoseok

2200+ words | Seven Sins!AU, Life, Dark | 17

.

They asked for karma, so he served it with golden plate, expensive garnish, and extra confetti for the glamour effect.

.

.

Trigger warning: mention of rape and victim blaming, cursing and inappropriate words, and brief description of  implicit sexual intercourse. Please proceed with caution, and do read the notes at the end of the story.

.

.

.

Terkadang, ada masa ketika ia hanya ingin menikmati makanan lezat yang tengah memenuhi meja ketimbang mengurusi hawa nafsu dalam bentuk lain yang—sialnya—merupakan salah satu tanggung jawabnya.

Karena sumpah, bisa tidak sih, para manusia ini berhenti bersikap sok suci?

You look like you’re gonna shoot bright orange laser from your eyes, Jung Hoseok.

Yang disebut namanya menggeram, mendelik ke arah Kim Seokjin—sang Gluttony—yang sekarang sedang menyeruput jjamppong-nya banyak-banyak. Kontras dengan Seokjin yang tampaknya hanya peduli pada bermangkuk-mangkuk dan berpiring-piring hidangan di depan mata, Hoseok tak bisa menahan dirinya untuk tak mengerutkan kening. Jijik, sekaligus geram karena acara makan dan bersantainya diganggu.

Padahal, ia bermaksud untuk tenggelam dalam pengaruh Gluttony hari ini. Kawannya itu sudah berjanji akan mentraktirnya, dan siapa ia sampai rela menolak? Ia bukan Sloth yang terlalu malas dan malah sibuk bercinta dengan bantalnya, ia bukan Envy dan Greed yang tengah sibuk bermain dengan mobil balap baru mereka, dan ia juga tidak mau ikut campur dalam pertengkaran antara Pride dengan si kembar Wrath—yang dengar-dengar, baru saja membakar habis dua klub malam serta membuat kerusuhan.

Bicara soal nafsu, ia dan Gluttony adalah teman baik. Tapi, untuk urusan yang satu ini—

Pemerkosaan di mana-mana. Itu akibatnya jika tidak bisa menjaga diri.”

Pasti korbannya memang bukan perempuan baik-baik. Kalau ia perempuan terhormat, mana mungkin ia jadi korban, kan?

“Hoseok, nanti jatahmu keburu ding—“

Take it.” Hoseok mendorong mangkuknya ke arah Seokjin, kedua lengan disedekapkan. Nafsu makannya mendadak hilang.

Baiklah, secara teknis, ia memang iblis yang bertugas untuk membangkitkan hawa nafsu manusia dan mendorong mereka untuk melakukan hal-hal kotor. Ia adalah si penggoda ulung, yang terbahak dan menyeringai senang setiap kali seorang anak manusia berlutut pasrah di bawah kendalinya. Erangan dan desahan adalah suara-suara favoritnya, terkadang diselingi dengan teriakan kala unsur paksaan diperlukan.

Namun, sama seperti saudara-saudaranya, tugas Hoseok bukanlah menenggelamkan manusia dalam nafsu semata. Hal-hal negatif ada untuk menyeimbangkan dunia, untuk mengingatkan bahwa putih bukan berarti sama sekali tanpa noda. Mereka yang bertingkah terlalu suci terkadang merasa bahwa mereka berada di atas segalanya, lantas mengabaikan orang-orang lain yang dirasa kotor menurut standar mereka.

Memuakkan.

Ketika ia memerintahkan anak buahnya untuk menumbuhkan bibit dosa pada diri lelaki-lelaki berengsek yang akhirnya menjadi pemerkosa, tujuannya lebih dari sekadar mendengar suara-suara kesakitan atau kekeh tawa kegilaan. Para wanita yang menjadi korban itu tidak dimaksudkan untuk dijadikan objek pembicaraan atau tudingan semata. Tidak, tujuannya lebih dari itu.

Setiap hal negatif, setiap kejahatan, tetap memiliki bibit kebaikan. Secara tidak langsung, Hoseok juga sedang melakukan tugasnya untuk menjaga keseimbangan dunia ini. Ia memancing manusia-manusia lainnya untuk peduli, untuk bertindak, dan untuk menolong. Ia ingin mendorong mereka untuk belajar menerima sisi gelap itu alih-alih berpolah tak acuh. Ia ada agar mereka yang bersikap sok suci bisa lebih memahami realita dunia, agar mereka bisa bertingkah layaknya manusia dan berhenti menganggap diri mereka Tuhan. Cih, mereka bahkan tidak lebih hebat dibandingkan dirinya dan mereka masih berani memberikan komentar murahan seperti itu?

Mengembalikan fokus pada ketiga manusia yang duduk tak jauh dari mejanya, Hoseok kembali mencoba mendengarkan. Si pria dan wanita yang tampaknya berstatus suami-istri masih sibuk membicarakan berita pemerkosaan yang terjadi, kali ini diiringi decak merendahkan dan mimik wajah yang menyiratkan bahwa mereka tidak akan pernah menjadi bagian dari perilaku kotor macam itu. Dunia mereka sempurna. Dunia mereka penuh cahaya dan jauh dari jangkauan tangan kegelapan.

Ck, benarkah itu?

Kalau benar demikian, kenapa mereka mengabaikan si korban yang jelas-jelas tak bersalah? Kenapa mereka malah melontarkan tuduhan macam-macam, seakan mereka lupa bahwa hal-hal buruk kadang bisa terjadi tanpa alasan? Ke mana perginya Chastity, si kebajikan busuk yang terobsesi dengan kesucian itu? Apa ini artinya hanya Hoseok yang bekerja keras, sementara si Chastity itu bermalas-malasan?

“Sepertinya memang perempuan itu yang berpakaian terlalu menggoda. Ck, barangkali diam-diam dia juga bernafsu, kan? Makanya ia sengaja memancing seperti itu.”

Hoseok mengepalkan tangan, gemetar karena amarah.

Dan sekarang mereka menganggapnya tidak berguna, huh? Hanya karena ia adalah perwujudan dari energi negatif di dunia, bukan berarti ia lantas bisa dikesampingkan begitu saja!

Hoseok paling benci direndahkan.

“Makanya, kau harus pintar menjaga diri, Nak. Berpakaianlah yang sopan dan jadilah wanita baik-baik. Jangan suka menggoda lelaki layaknya para jalang murahan itu, mengerti?”

“Tentu saja anak kita berbeda dari mereka. Kau tidak akan mempermalukan keluarga, bukan?”

Sang Lust mendengus, menggulirkan manik oranye gelapnya ke arah seorang gadis berambut lurus panjang yang mengenakan rok sepanjang betis dan kemeja oversized. Senyum kecil tampak di wajahnya, selagi ia menjawab dengan nada manis, “Tentu saja, Ayah, Ibu.”

Menarik.

Dusta yang diucapkan gadis muda itu begitu menarik bagi Hoseok.

Kedua orangtuanya mungkin tak akan pernah tahu, tapi Hoseok dapat mendengarnya sejelas ia mendengar kata-kata palsu yang terucap. Pikiran gadis itu berteriak padanya, penuh dengan emosi, dengusan kesal, dan ketidaksetujuan. Di atas segalanya, Hoseok bisa mendengar hasrat gadis itu bernyanyi dan bergejolak. Wajah polos itu hanya topeng, kepalsuan yang digunakan untuk memuaskan obsesi sang ayah dan ibu terhadap kemurnian.

Mendadak, Hoseok tahu apa yang harus ia lakukan.

Seraya menopangkan dagu pada sebelah tangan, ia mengulum senyum penuh arti. Ia kesal, tentu, tapi ia tidak akan meluapkannya sekarang. Lagi pula, ia bukan si kembar Wrath yang mudah sekali mengamuk, membakar benda-benda, dan menghabisi lawan mereka begitu saja.

Nah, he will do it in a classy way.

“Hoseok?”

Masih sambil menjungkitkan ujung-ujung bibir, Hoseok mengulurkan tangan dan menarik mangkuknya kembali.

Hey!! You said you didn’t want to eat that!”

“I’ve got a grand plan, you big eater.” Hoseok meraih sumpit, menyeruput mienya banyak-banyak. “And I need to eat before that, okay?

.

-o-

.

Tahap pertama, lusa, pukul sembilan malam.

Si hawa nafsu bersandar pada sebuah mobil sedan mewah yang terparkir di depan restoran, menanti. Sayap kelamnya terbentang, aura oranye terang berpendar di sekeliling tubuhnya. Berbeda dengan acara hangout singkatnya bersama Gluttony dua hari lalu, kali ini Hoseok tak menampakkan wujudnya kepada para manusia. Ia di sini untuk sebuah misi, untuk mengantarkan sebuah pelajaran berharga bagi si pasangan tua yang telah meremehkan dirinya.

Ia menarik napas, menghirup aroma perkotaan yang merebak di sekelilingnya. Hawa kebebasan, kecerobohan, kenekatan, dan kelalaian. Segalanya berpadu menjadi satu, membuatnya merasa beratus-ratus tahun lebih muda, sama mudanya dengan sepasang jiwa yang tengah bertukar kecupan mesra dalam mobil sedan mewah di belakang tubuhnya.

Jung Hoseok menjentikkan jemari, menumbuhkan sedikit bibit yang berpendar jingga kelam itu di dalam benak si pemuda.

Let’s do something more, hm? Your parent won’t be in town until next week, right?

Ciuman itu berpindah ke leher dan bahu, menyusuri tulang selangka, meninggalkan jejak. Sang gadis mendorong kekasihnya sedikit, berpolah ragu dan tak yakin. Tatap matanya sayu, tapi Hoseok bisa membaca hasrat yang terpendam di dalam sana sejelas ia membaca buku yang terbuka di depan mata.

Satu jentikan lain, dan gadis itu beringsut mendekati kekasihnya untuk mendaratkan sebuah ciuman dan sentuhan meminta maaf.

Yeah, but not here, okay? Let’s—“

“Sure, babe. Aku tahu tempat yang sepi di dekat sini.”

Nafsu itu sudah menyebar, mengurung keduanya dalam gelembung panas yang mendebarkan dada dan tak bisa diabaikan. Napas terengah mereka adalah bukti, pun dengan kegelisahan yang merambati lengan dan kaki. Si pemuda bergegas menyalakan mobil dan menginjak pedal gas tanpa basa-basi, sementara gadisnya mencoba merapikan kemeja yang separuh terbuka kendati hal tersebut nantinya akan sia-sia.

Hoseok mengikuti di belakang mereka, dengan santai membelah udara dan membiarkan angin malam membelai bagian tubuhnya yang terbuka. Khusus untuk misi spesial ini, ia sengaja mengenakan tunik favoritnya yang memiliki belahan dada rendah dan tak berlengan, melapisinya dengan jas hitam bermotif, serta mengenakan choker warna merah cerah. Tentunya, si penggoda manusia harus terlihat lebih menggoda dan menawan, bukan?

Ketika mobil itu akhirnya berhenti di sudut taman yang sepi dan gelap, Hoseok memilih untuk bersandar pada pepohonan terdekat. Tatapnya tajam, tertuju pada dua sosok yang saling berdempetan di balik jendela kaca mobil. Telinganya sibuk menangkap tiap suara yang tercipta—suara sekecil kemeja yang ditarik hingga kancingnya terbuka, ritsleting yang diturunkan, decit kursi dan ban mobil, kulit yang bergesekan dengan kulit, serta tubuh yang membentur sandaran jok. Ia mengawasi segalanya dengan senyum kecil di wajah, menyeringai saat desahan, erangan, dan teriakan puas tersebut memecah heningnya malam. Lagi, lagi, dan lagi; sampai-sampai sang Lust bisa ikut merasakan panas yang menguar tanpa kendali, mencium wangi keringat yang menempel di kulit, serta mencecap manisnya hasil penyatuan dua insan yang merebak di udara.

Ia telah berhasil menjebak si gadis bertopeng sempurna dalam jeratnya, dan ia bersumpah akan terus melakukannya sampai tujuan akhir itu tercapai.

“Thanks, babe. We should do it again someday, okay?”

Hoseok tak perlu menunggu jawaban si gadis, yang sekarang tengah meliukkan tubuhnya dan mengalungkan lengan pada leher kekasihnya. Ia memilih untuk langsung pergi, dengan janji bahwa ia akan datang kembali, bahwa ia akan selalu datang, dan bahwa ia tak akan membiarkan mereka menjalani permainan ini sendirian. Oh, apalah artinya kepuasan tanpa kehadirannya, huh?

“Yeah, we’ll do it again someday, dear.” Sayap kelamnya terbentang lebar, membawa si pemilik kembali ke kediaman para dosa. “And that someday will come really, really, soon.”

.

-o-

.

Enam kali dalam seminggu. Hah.

Ia bahkan sampai tidak punya waktu untuk bersenang-senang dengan para dosa yang lain atau beristirahat barang sejenak.

Hoseok bertanya-tanya apakah ia telah menanamkan terlalu banyak bibit hawa nafsu di benak kedua orang itu. Atau mungkin, barangkali si gadis sudah terlalu frustrasi dengan nasihat-nasihat sok suci orangtuanya dan tak lagi bisa mengendalikan diri. Yang jelas, Hoseok tak akan menolak ataupun mengeluh lantaran ia jadi bisa mendengar musik bertema kenikmatan dan kepuasan duniawi itu setiap hari. Ditambah lagi, ini artinya rencana Hoseok berjalan jauh lebih lancar dibandingkan harapannya semula.

Seraya bersedekap di sudut kamar si lelaki, Hoseok terkekeh dan tergelak saat kedua manusia muda di hadapannya bercinta sepanjang malam. Jam sudah menunjukkan pukul empat pada dini hari, namun mereka agaknya belum ingin menghentikan suara kasur yang berderit-derit itu. Hoseok bahkan tak perlu menggunakan kekuatannya lagi, karena kekasih si gadis sudah keburu memilih untuk kembali menjalinkan tubuh mereka—untuk terakhir kali sebelum orangtuamu pulang, begitu katanya—sementara desah panjang si gadis menembus dinding-dinding flat yang tipis tanpa bisa dicegah.

Sprai dan bantal yang berantakan, pakaian yang menodai lantai, dan gairah yang tak terbendung. Oh, dan jangan lupakan pula buah manis akibat dari perbuatan mereka ini. Sepasang anak manusia di hadapannya jelas belum tahu, tapi Hoseok yakin jika kehadiran jiwa baru itu tak akan bisa ditolak lagi.

Dan kali ini, kebajikan sudah terlambat.

Menoleh dengan angkuh ke jendela yang dilapisi tirai putih tipis, Hoseok bisa merasakan kehadiran Chastity yang bergidik ngeri dan panik di luar sana. Gadis polos itu jelas shock, benak bertanya-tanya mengapa Lust sampai bertindak sejauh ini. Tentu saja Hoseok hanya terbahak, tertawa di atas suara-suara favoritnya sebelum menjawab dengan nada puas.

It’s not like you can bring karma forward right, Virtue? So, why don’t I just serve it myself?”

.

-o-

.

“Apa saja yang kaulakukan hari ini, hah? Kenapa teman kerja Ayah berkata bahwa ia melihatmu mengunjungi dokter kandungan di rumah sakit?!”

Suasana begitu tegang, penuh dengan teriakan, tangisan, dan ratapan. Sang kepala keluarga berdiri menjulang dengan penuh kuasa, tapi ada kepanikan serta rasa malu yang mendalam di balik ekspresi tegasnya. Istrinya pun serupa, mencoba untuk mempertahankan topeng terhormatnya, namun perlahan-lahan runtuh akibat membayangkan hinaan serta tudingan yang akan ia terima di kemudian hari. Kontras dengan mereka, si gadis malah tampak penuh tekad dan jelas ingin melindungi sosok kecil yang kini bergelung di dalam perutnya.

“Siapa lelaki yang telah melakukan ini padamu?! Apa kau dipaksa?!”

Hoseok mendengus, teringat komentar pasangan tua di hadapannya ini berbulan-bulan lalu. Saat itu mereka bahkan tak peduli dengan adanya aspek paksaan atau tidak. Mereka hanya peduli pada kesucian keluarga mereka sendiri—yang kini telah sukses Hoseok nodai.

“Mau dipaksa atau tidak, sama saja kan bagi Ayah dan Ibu?” Gadis itu menyuarakan pikiran Hoseok, memeluk tubuhnya sendiri. “Aku melakukannya dengan sukarela!”

“Kau—“ Ayahnya memijat pelipis, menatap gundukan kecil yang sudah mulai terlihat di balik kaos putrinya.

“Sudah berapa lama ini terjadi, Nak? Satu bulan? Dua? Mungkin kita masih bisa menggugurkannya dan—“

“Tiga bulan, dan tidak—“ Si gadis menaikkan nada suaranya, mengambil satu langkah mundur sebelum melanjutkan, “—aku tidak akan melakukan aborsi!! Kalian boleh menganggapku ternoda, tapi aku tidak akan memilih jalan seburuk itu!”

“Ini satu-satunya jalan!” Kepalan tangan si ayah membentur meja terdekat, membuat Hoseok berjengit karenanya. “Kita harus mengeluarkan bibit kebusukan itu dari dalam tubuhmu, menghilangkan semua bukti, dan memulai dari nol! Kita masih bisa berkata kalau kau menemui dokter kandungan untuk urusan lain! Tidakkah kau peduli pada keluarga kita?!”

Hening sesaat. Hoseok bisa melihat air mata menggantung di pelupuk gadis itu, air mata yang juga tak mampu meluluhkan hati orangtuanya. Kepedulian maupun belas kasih telah hilang dari diri pasangan suami-istri tersebut, lesap sepenuhnya akibat hasrat untuk mempertahankan topeng kesucian.

“Aku lebih baik pergi daripada harus bertahan di tengah keluarga palsu macam ini!”

BRAAAK!!

Teriakan lagi.

Jeritan.

Tangisan.

Dan amarah. Banyak sekali amarah.

Menunjukkan apresiasinya, Hoseok menepukkan tangan sembari memandangi adegan yang tersaji di depan mata. Baginya ini semua manis, semanis hawa nafsu yang mengalir dan menggelegak di dalam nadinya. Yah, apa lagi yang lebih manis dibandingkan sebuah kehancuran yang diakibatkan oleh orang terdekatmu? Apa lagi yang lebih menyakitkan dibandingkan duri yang diam-diam menusuk saat kau sedang asyik menikmati kesempurnaan sebuah hidangan? Orang-orang seperti mereka tak berhak atas sebuah kesempatan kedua, tidak karena mereka sudah terlanjur melewati batas dan terlampau berani menantang dunia.

They asked for karma, so he served it with golden plate, expensive garnish, and extra confetti for the glamour effect.

Well, sepertinya ini saatku untuk pergi dan bermain-main. Memangnya aku tidak bosan apa, jadi penonton saja selama seminggu penuh?”

Sang perwujudan hawa nafsu memutar tungkainya, lenyap di tengah gumpalan asap kelam, membawa pergi nampan saji yang kosong-melompong lantaran isinya telah disajikan.

It’s a pleasure to serve you right, Sir and Madam.”

.

.

.

fin.

.

producer notes

 I do not and I never encourage or support rape. It’s the most worst thing that can happen to us, yet it’s still happened. So, since I write from Hoseok’s POV this time, as a Lust, I tried to make it as neutral as possible.

Yes, it is terrible. Yes, it’s should’ve never happen. But yes, it’s happening. It’s the reality out there, that something bad can happen to someone innocent and nice. Bad things happen, but that doesn’t mean we can blame the victim and act like we don’t care with them since the incident doesn’t involve us. Bad things happen so that we can be human, so that we can learn, and then try to fix it instead of mock it. It’s a long way, but I guess it won’t be totally impossible.

In this fic, Hoseok is one of the negative force of the world. Yet, he still, subconsciously, have something positive inside him. He just do his job, moving the negative force, trying to balance the world, waiting to see if the positive force will come after the negative one. Yet, people still act ignorant, and that’s why he end up serving the karma by himself.

There’s a lot of negative things in this story, but just like what Hoseok hoped, I also hope that you can take the positive messages behind this story. Negative things happen for reasons that we can’t understand, the universe is unfair in a way that we can’t understand, but we do have a chance to be someone good in the middle of those chaos. Even sins can have some positive things inside them, right?

Last but not least, thank you for reading. 

 

 

 

 

Advertisements

5 comments

  1. Alright.

    Aman, aman… Implisit seperti yg dikatakan jadi aman2 aja bacanya /plak/
    Awalnya aja udah agak nganu(?) ya… << shock pas baca hoseok demen begituan /plak plak/
    Tapi beneran deh, ini yg paling kena ke society jaman skrg… Memang banyak terjadi kasus di sana sini tapi kalau dilihat dari sisi lain spt hoseok, ini juga jadi pelajaran bagi kita untuk peduli.. Bukannya menjauhi para korban.. Aku pribadi, belum nyampe ke sana2 obrolannya cuma dari sekadar tau, ada juga orang yg melakukan semacam diskriminasi spt menjauhi korban2 tsb… Ini yg perlu dibenahi.. Bilang sok suci tapi kalo menjudge orang begitu saja, masih ttp bisa dianggap spt itu? ((lalu merasa hening)) ((kenapa saya mendadak bijak))
    But, aku juga ada pertanyaan kak.. ((ini sejak kapan demen nanya tiap komen)) Kalo semisal orang yg melakukannya, atas dasar sendiri tapi masih di bawah umur, ttp salah kan?

    Okay kita beralih ke yg lain saja, rasanya udah serius amat komen beginian /plak/
    Envy dan Greed saling balap mobil baru ya, oke sip.. Vkook ttp maknae, ttp ucul walau jadi perwujudan dosa… /lah/ Btw jadi penasaran itu balapannya pake mobil warna cerah2 jadinya gimana ya… 😂😂😂
    Pride dan si kembar Wrath bikin rusuh tapi saya yakin Pride pasti kalah 😂😂😂
    And dat "tunik belahan dada rendah dan tak berlengan, with jas hitam bermotif, and choker warna merah cerah" tho….. YOU CAN HEAR ME SCREAM OVER HERE AND THERE… /DYING/Makasih udah membawa saya kembali ke jaman bst kak :"))
    Sloth masih sibuk sama bantal ya… Itu entar dia gimana caranya ngejalanin tugas astaga 😂😂😂

    Eh wait, sepertinya komenku sudah melebihi batas normal(?)…. /ngacir

    Like

    1. kalo mau versi ga aman, nanti dikirimin lewat pc line aja ya biar nggak ketauan (?) /nggak/
      ehehe cieee mendadak bijak :3 tapi bener kok, aku pas nulis ini juga kesel sama postingan yang bertebaran di line dan komentar2 orang yang sama sekali nggak sensitif atau peduli. hah, kadang rasanya pengen ikutan jadi lust buat kasih mereka pelajaran, tapi yaudahlah biar diurus sama hoseok aja (??)

      eum… aku lupa pertanyaanmu udah kujawab di line apa blm… kayanya udah kan ya? /plak
      mungkin vkook bikin kehebohan di kota /plak/ dan iya dong pride kalah… emang kapan pride menang? < menginjak-injak harga diri pride

      ehehe anw makasih ratih! ❤

      Like

  2. WAH WAH WAAAAAH
    Setuju sama jalan pikir Kak Amer yang dituangin dalam perwujudan Bang Hobi sebagai lust di sini karena emang bener, harusnya, kalau tahu ada yang kaya gitu, jangan malah disalahin si korbannya

    Gila aja, trauma banget tahu mereka tuh (si korban maksudku) (since I ever met someone who experienced (probably) the worst in her life, because the one who takes her everything is actually her own family then she’s still becoming a victim of physical abuse from her family too, and it’s worst. she’s already taken by a better family now, but can’t help if she’s actually still not going to trust other people or even going to open up about it like really soon, because like what I said earlier, it’s very traumatic experience :((( I am still hoping she’s alright now and like what you said Kak, rape is terrible. Yes, it’s should’ve never happen. But yes, it’s happening. It’s the reality out there, that something bad can happen to someone innocent and nice. :(((( )

    makasih udah sedikit ngemasukin komedi di awal Kak!! (that date with pillow for yoongi, car racing for vkook, and burning down the clubs for namjoon and the twins!)
    makasih juga buat “tunik belahan dada rendah dan tak berlengan, with jas hitam bermotif, and choker warna merah cerah”
    astagaaaa kangen liat Bang Hobi pake itu masaaa!!!

    Like

      1. huhuhu untunglah aku nggak sesat menyampaikannya (?) sebenernya part ini tuh bikin galau karena aku takut orang salah paham maksudku hahaha :””

        yep its terrible, and oh I hope your friend can stay strong and lead a better life afterwards… and yes its traumatic, and I know how difficult it is to live when you have a major trauma that won’t be erased that easily….. well, being care is the only way that I know for sure….

        ehe, karena sebenernya ketujuh (atau delapan if you count park sibs as two) emang masih suka rusuh dan koplak… cuma kalau mode serius ya serem ._.

        ah soal warna, yang lain juga punya sendiri2 emang hahaha jadi tiap warna itu melambangkan personality-nya mereka sebagai dosa gitu sih kira-kira… dan line-upnya (?) nanti: Namjoon (Pride): Violet; Yoongi (Sloth): Blue; Seokjin (Gluttony): Light Brown; Jungkook (Greed): Kuning begituuu XD

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s