Excerpt: No Limit

No Limit

prologue ~ chapter 10

.

.

.

0: Prologue


Desas-desus mengatakan bahwa tempat itu terkutuk.

Gunung Nix terletak di timur laut desa Verella, tepat setelah kau berhasil menembus Hutan Sylvan. Sebuah perjalanan yang penuh dengan maut, atau begitu yang selalu dikatakan para penduduk desa yang terlampau takut untuk mencoba. Wajar saja, lantaran sebagian besar penghuni Verella memercayai takhayul yang sama.

“Salju abadi pasti telah menelan mereka!”

“Tapi, legenda di buku mengatakan bahwa ada portal menuju dunia yang lain!”

“Kurasa, dewi dari Gunung Nix-lah yang meminta korban! Ingatkah kau, bahwa semua yang pergi tidak pernah kembali?”

Tanpa akhir, tanpa batas. Desas-desus berubah menjadi praduga, menjadi berbagai macam konklusi yang terkadang di luar nalar. Kendati demikian, seluruh penduduk toh menyepakati hal yang sama.  Kau tidak boleh bepergian ke Gunung Nix, kecuali kau memang terlampau nekat atau malah sudah bosan mencecap kehidupan.

Namun, segala sesuatunya mulai berubah kala akhir tahun datang menjelang.

Jalan utama Verella ramai, penduduk berdesak-desakan seraya merapatkan jubah mereka. Malam itu, salju turun perlahan, dengan indah dan anggun menyepuh tiap inci bangunan, dahan pepohonan, serta permukaan jalan. Cahaya sudah dinyalakan, pendar keemasan tampak di sana-sini menemani hamparan salju. Verella indah seperti biasa, siap menyambut akhir tahun yang penuh dengan pesta dan kehangatan.

Hanya saja, akhir tahun ternyata tak hanya diisi oleh pesta, makanan enak, serta minuman manis nan lezat.

“Kalian tidak tahu apa yang ada di ujung lain portal itu! Semuanya mengejutkan, segalanya… oh, aku bahkan tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata!”

Bersemangat dan menarik atensi, lelaki itu berdiri di samping tugu kota. Lengan terentang untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, bibir senantiasa berceloteh dan menebar senyum. Sukses membuat para warga terpana sejenak, sebelum akhirnya menyadari bahwa lelaki itu adalah si petualang yang hilang lima tahun lalu.

“Xavier? Kau Xavier, bukan? Yang pergi dan—“

“Aku pergi, dan aku menjelajahi dunia yang baru!” seru si lelaki, pandang beredar ke sekeliling desa. “Tentu saja aku merindukan desa ini, tapi aku tidak menyesali perjalananku ke dunia sana! Dunia tempat para manusianya hidup dengan cara yang berbeda! Aku….”

“Ada apa di Gunung Nix? Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Bisakah kau menceritakannya pada kami?”

“Kenapa hanya kau yang kembali?”

“Memangnya, bagaimana kehidupan di dunia itu?”

Para penduduk ramai-ramai bertanya, tampak tak peduli dengan dinginnya udara di luar. Yang mereka butuhkan adalah penjelasan, sesuatu untuk melengkapi rumor serta kisah kuno yang beredar. Pandang mereka memang tampak bersemangat, tetapi bukan berarti keberanian untuk mencoba lantas muncul begitu saja. Hanya ketertarikan yang mereka miliki untuk saat ini, saat ketika seorang penduduk desa kembali dari Gunung Nix setelah sekian tahun berselang sambil membawa cerita yang unik.

Semua, kecuali seorang gadis berambut sepunggung yang berdiri di batas terluar kerumunan.

Gadis yang samar-samar bisa mendengar potongan-potongan cerita milik Xavier, ujung-ujung bibir seketika berjingkat naik, sementara wajahnya membentuk ekspresi penuh ketertarikan.

“Tunggu aku, wahai Gunung Nix.”

.

.

.

1: Skye


Kring!

“Skye! Tolong bersihkan meja nomor lima!”

Sang gadis menghela napas, menutup pintu di belakangnya sebelum berjalan menuju meja yang dimaksud. Cassia Rush selalu ramai saat sore menjelang, penuh orang-orang yang mencari kudapan serta minuman favorit mereka. Baik itu para petani atau peternak, pekerja dari balai desa, hingga murid-murid serta para guru di Akademi Mirwall, mereka semua tampaknya berpikir bahwa sore adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Cassia Rush dan melepaskan penat.

Sungguh kontras dengan ekspresi cemberut di wajah Skye saat ini.

Mengarahkan tangan kirinya pada tumpukan pecah-belah di atas meja, Skye membiarkan piring dan gelas kotor itu melayang perlahan. Tangan yang lain menyambar kain lap yang ia selipkan di ikat pinggang roknya, melempar benda itu ke atas meja sebelum merapalkan mantra pembersih.

“Skye, meja nomor sepuluh!”

“Astaga, tidak bisakah kau menyuruh dirimu sendiri?” Skye berkacak pinggang, nyaris saja menjatuhkan piring kotor selagi ia memelototi Felicia, rekan kerjanya yang hanya bersandar di meja bar. “Aku baru saja selesai membuang sampah, dan kau sudah menyuruhku melakukan ini dan itu—“

“Aku sibuk menerima pesanan.”

Felicia mengibaskan rambut pirang ikalnya dengan sebelah tangan, berpaling untuk memberikan atensi pada beberapa pria yang duduk di bar. Kelopak dikedip-kedipkan hingga membuat Skye muak, berkebalikan dengan para pria yang langsung memasang senyum terbaik mereka dan berebutan memesan gin atau bir.

Kalau saja Felicia bukan anak bibi pemilik Cassia Rush, mungkin Skye sudah mencekiknya sejak dulu.

Membersihkan meja nomor sepuluh dengan cepat, Skye kemudian beralih menuju dapur dengan piring, mangkuk, dan gelas kotor yang melayang. Ia berusaha keras untuk tidak terpancing saat melewati bar, berkonsentrasi untuk meletakkan semua alat makan di bak pencucian. Menit berikutnya ia habiskan untuk menenangkan diri, menarik oksigen banyak-banyak sebelum ia kehilangan kendali.

“Ada pelanggan yang baru datang, tuh.”

Sialnya, sambutan itu terdengar saat Skye melangkah keluar dari dapur. Mata sudah memelotot, sampai ia mengikuti ujung telunjuk Felicia yang terarah ke sisi kiri bar—tempat seorang lelaki berjaket hitam mengilap duduk sendiri.

Sontak, suasana hati Skye pun sedikit membaik.

“Sudah lama aku tidak melihatmu, Tuan Xavier.

Gadis itu memberikan penekanan pada dua kata terakhirnya, menopangkan lengan pada permukaan meja bar sementara lawan bicaranya mendongak. Iris hijau gelap menyorotinya, diikuti senyum sepintas dari si lelaki berambut perak mencuat.

“Mengurus hewan ternak itu tidak mudah,” balas lelaki itu, mengedikkan kepala pada deretan cangkir yang terpajang di rak belakang bar. “Kopi dan krim, tolong.”

“Kue?”

Muffin keju, kalau ada.”

Skye mengangguk, menyiapkannya selagi ia mencuri-curi pandang ke arah Xavier yang tampak lesu. Lelaki itu menggerak-gerakkan telunjuknya membentuk pola asal di atas meja kayu, terlihat begitu merana hingga Skye pun ikut merasa sendu. Bagaimanapun juga, sejak Xavier kembali dari perjalanan misteriusnya sekitar dua tahun yang lalu, ia adalah satu-satunya orang yang telah setia menjadi teman bicara sang lelaki.

Kisah Xavier mengenai sebuah dunia yang berbeda dari dunia mereka itu memang telah tersebar, diceritakan ulang oleh warga Verella selama beberapa minggu lamanya. Namun, sebulan berlalu. Dua bulan, tiga bulan, dan cerita itu sekarang dilupakan. Ada yang menganggap Xavier hanya berhalusinasi karena terlalu lama tersesat di gunung, sementara yang lain membicarakan betapa beruntungnya pemuda itu lantaran ia masih hidup. Beberapa malah takut padanya, entah dari mana membuat anggapan jika kembalinya Xavier akan membawa sial bagi desa. Cerita-ceritanya tak lagi menarik, perlahan dilupakan dan tak diungkit-ungkit.

Namun, Skye adalah penggemar berat cerita-cerita itu.

“Kau tahu kalau aku masih memercayai semua kisahmu, kan?”

Skye menarik dirinya untuk duduk ke atas kursi di sebelah Xavier, segera setelah ia mengantarkan roti lapis daging ke salah satu pengunjung dan melihat Reyna—pelayan lain di Cassia Rush—masuk lewat pintu. Gadis itu baru saja pulang dari sekolah, dan Skye berasumsi jika Reyna pasti bersedia untuk menggantikan tugas-tugasnya sejenak.

“Apa itu begitu susah dipercaya?” Xavier menelengkan kepala, menatap Skye lekat. “Bahwa ada dunia lain, bahwa semua takhayul itu tidak nyata?”

Skye mengangkat bahu. “Kau adalah satu-satunya yang kembali.”

“Itu benar. Tapi—“

“Dan mereka tidak cukup berani untuk mencoba.”

Pandang mereka bertemu. Xavier mengeluarkan desahan pasrah, bahunya kembali turun. “Itu juga benar.”

“Kenapa kau kembali kalau begitu?” Sang gadis bertanya, melepaskan ikatan pada rambut cokelat sepunggungnya yang sudah berantakan dan mulai mengikat ulang. “Yang lain tidak kembali dan semua menganggap mereka lenyap tanpa jejak. Tapi, kenyataannya tidak begitu, kan?”

Xavier menggigiti muffin-nya, suaranya teredam saat ia menjawab, “Entahlah. Aku bahkan tidak yakin mengapa aku bisa menemukan portal itu lagi, atau mengapa yang lainnya memilih untuk tidak kembali.”

“Yah….”

“Aku senang bisa kembali, sungguh.” Xavier buka suara sebelum si gadis sempat berargumen, melanjutkan. “Tapi, terkadang aku juga sedikit merindukan dunia itu.

“Dunia itu….” Skye mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung telunjuk, mulai berangan-angan. “Kau ingin kembali ke sana?”

Di luar dugaan, Xavier memberinya gelengan cepat.

“Aku akan merindukannya, tapi tidak.” Satu sesapan kopi, lantas Xavier mengelap bibirnya sebelum melanjutkan, “Aku sudah memutuskan untuk kembali dan aku juga memutuskan untuk tidak menyesalinya.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ada sesuatu yang belum kauketahui.”

Kali ini Skye beralih mengangkat alisnya, tak sabaran. Ia bisa melihat bahwa Cassia Rush makin dipadati pengunjung, tanda bahwa ia harus segera kembali bekerja atau Reyna akan kewalahan mengurusi semua tamu.

“Xavier, aku tidak punya banyak waktu.”

“Jam berapa kau selesai bekerja?”

Manik Skye bergerak menatap jam, menghitung. “Tiga jam lagi. Pukul delapan.”

“Datanglah ke rumahku,” balas Xavier, tanpa jeda. “Kuanggap kau masih tertarik dengan semua kisahku, benar?”

Anggukan mantap diberikan oleh gadis itu. Ia tidak hanya tertarik, sejujurnya. Ia lebih dari sekadar tertarik, dan itulah alasan mengapa ia membuka topik pembicaraan ini. Terlepas dari fakta bahwa Xavier sudah terasa seperti kawan, Skye masih belum lupa dengan tujuan awalnya. Semua informasi mengenai Gunung Nix, portal ajaib, hingga dunia lain itu penting baginya. Tak masalah jika Xavier tidak ingin kembali—Skye masih akan tetap menerima semua kisah dan teori gila apa pun dengan tangan terbuka.

“Jam delapan, kalau begitu,” putus Xavier. “Dan bisakah kau membawa beberapa potong roti saat berkunjung? Ibuku merindukan roti dari Cassia Rush.”

“Tidak masalah.” Skye meluncur turun dari kursinya, baru akan melangkah menghampiri tamu yang memasuki kedai makan saat ia teringat sesuatu. Kepala tertoleh lagi ke arah Xavier yang sedang mencelupkan secuil muffin ke dalam kopi,  berdeham sebelum berkata, “Omong-omong, aku boleh mengajak Finn, kan?”

.

.

.

2: Finn


Ia berdendang perlahan, kaki diketuk-ketukkan di atas lantai kayu sementara jemari menyortir tumpukan akar kering.

The Apollinaris bukanlah jenis toko yang kerap dikunjungi, sehingga keheningan pun praktis menjadi teman sehari-hari sang lelaki. Namun, Finn sudah terbiasa. Ia menyukai suasana sepi lebih dari apa pun juga, mengisinya dengan irama lagu buatan sendiri serta denting-denting stoples kaca yang berisi berbagai macam bahan pembuat ramuan.

Memasukkan akar-akar kering yang sudah ia pilah ke dalam stoples, Finn meraih pena bulu dan mencelupkan ujungnya ke dalam tinta. Tangan bergerak untuk menulis label nama, masih sambil menggumamkan nada-nada buatannya. Suaranya kini mulai terdengar lebih keras, sampai pintu depan berderit membuka dan ia pun lekas menoleh dengan iris dilebarkan.

“T-Tuan Cars.” Finn berdeham, nyanyiannya tahu-tahu terhenti saat si pemilik toko melangkah masuk dengan karung-karung berisi tanaman. “Biar saya bantu.”

“Kenapa kau berhenti bernyanyi?”

“Um….”

“Aku tidak pernah menganggap nyanyianmu sebagai gangguan, Nak.” Tuan Cars membuka salah satu karung, menampakkan biji buah pinus di dalamnya. “Itu membuat tempat ini terasa lebih hidup.”

Pujian tersebut sukses membuat Finn sedikit mengulum senyum, tapi lekas lenyap saat ia teringat bahwa hal itu tetap tidak akan membawa perubahan dalam hidupnya. “Terima kasih, Tuan. Tapi, saya akan berkonsentrasi untuk merapikan bahan obat-obatan ini saja. Apa yang harus saya lakukan?”

“Profesor dari kelas Ramuan dan Tanaman Herbal meminta bahan-bahan dasar untuk membuat Tonik Penghilang Rasa Lelah,” jawab Tuan Cars, selagi Finn mengangguk-angguk. “Ada cukup banyak yang harus dibungkus—“

“Biar saya kerjakan sekarang.”

Sang pria tua menggeleng tegas, kembali mengikat karung dan menyeretnya ke sudut toko. Ia sama sekali tak mengizinkan Finn membantah, kedua tangan ditautkan di belakang punggung dan wajahnya memasang ekspresi bijak yang selalu sukses membuat Finn salah tingkah. Kendati begitu, saat Tuan Cars membuka mulutnya, atensi Finn pun langsung tertuju ke arahnya.

“Ini sudah cukup malam, Finn. Sudah dua malam kau bekerja lembur.”

“Em—“

“Aku tidak ingin kau memaksakan diri.” Mata Tuan Cars berkilat penuh arti. “Terlebih, memaksakan diri untuk hal yang sama sekali tidak kausukai.”

“Saya tidak….” Finn berpaling, tanpa sadar meraih tumpukan akar kering yang tidak lolos penyortiran dan memainkannya. “Saya senang bekerja di sini, Tuan Cars.”

“Kau tahu bukan itu yang kumaksud, Nak.” Tuan Cars memberi tepukan singkat di bahu Finn, nada kebapakannya entah kenapa menghadirkan sesak di dada si pemuda. “Dan soal bekerja hingga larut, kurasa kau tidak bisa melakukannya karena ada seseorang yang mencarimu.”

“Seseorang?”

Tuan Cars memberi kedipan usil sebagai jawaban, kemudian langsung beralih menuju tangga yang ada di pojok belakang toko. Pria tua yang bertubuh bungkuk dan memiliki rambut serta janggut serba kelabu itu memang tinggal di bawah The Apollinaris, seumur hidupnya bekerja sebagai penjual aneka tanaman herbal bagi warga desa. Finn sendiri adalah satu-satunya pekerja di sini, posisi yang ia dapatkan setelah memohon tanpa henti pada Tuan Cars.

Atau barangkali, Tuan Cars hanya mengasihani pemuda payah sepertinya.

Pikiran itu terkadang melintas di benak Finn, membuatnya merasa tidak berguna. Kalau sudah begitu, ia pasti akan mengalami hari yang buruk. Muram sepanjang waktu, enggan untuk kembali ke rumahnya yang terletak di kaki bukit, dan….

“Finn!!”

Memecahkan senyap setelah kepergian Tuan Cars, pintu depan terdorong membuka dengan debam keras. Seorang gadis berambut cokelat terang bergelombang berdiri di sana, irisnya yang sewarna hazelnut terlihat bersemangat. Ia berjalan dengan langkah memantul, berhenti di hadapan Finn dengan senyum secerah matahari.

Finn meneguk ludah dengan susah-payah, memaksakan kekeh tawa saat jemari sang sahabat terulur untuk mengacak-acak rambut hitamnya.

“Hari yang buruk?”

“Aku hanya sedang berpikir.”

“Kau terlalu banyak berpikir,” sahut Skye, si gadis yang sekarang sudah menarik tangannya dan berputar untuk mengamati toko. “Kuharap pekerjaanmu sudah selesai?”

Mata Finn menyipit, curiga. “Apa yang kaukatakan pada Tuan Cars?”

“Aku hanya bertanya kapan kau selesai bekerja.” Skye mengangkat bahu. “Karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Suatu tempat?”

“Rumah Xavier, tepatnya,” jawab Skye, berpaling ke arah Finn lagi. “Sepertinya ia punya cerita baru. Kau tahu kan, kalau aku belum menyerah soal ini?”

Ocehan Skye keluar tanpa henti, menghantam telinga Finn hingga ia bingung harus menjawab apa. Kendati begitu, Finn toh bergerak untuk mengambil jaketnya. Melapisi kemeja kebesaran yang ia kenakan, lantas bergerak menarik tirai-tirai The Apollinaris dan memasang tanda “Tutup”.

“Kau akan ikut denganku?”

Finn menghela napas, berpura-pura pasrah saat Skye menariknya keluar dari toko. Gadis itu menyeretnya tanpa basa-basi di sepanjang jalanan yang tersusun dari batu-batu bulat, menuju rumah Xavier—sebuah pondok kayu bertingkat dua dan berbentuk segi empat tak beraturan—yang terletak bersebelahan dengan balai desa.

“Memangnya, kapan aku bisa menolakmu, Skye?”

.

.

.

3: Jim


Tangannya bergerak membubuhkan nilai di sudut kanan perkamen, sebelum menggeser pemberat yang berbentuk seperti bintang dan membiarkan kertas tersebut kembali tergulung.

Meregangkan kedua tangannya, Jim menoleh ke arah jendela yang berada di sisi kanan ruangan. Netra mengamati kegelapan yang telah membentang, diselingi oleh rembulan yang sedang dalam fase sabit serta kerlip putih kekuningan di sana-sini. Malam sudah tiba entah sejak kapan, tanda bahwa ia terlalu larut dalam pekerjaannya.

Saudarinya pasti akan kesal jika ia sampai pulang terlambat.

Jim sudah berkali-kali terpaksa berhadapan dengan ekspresi cemberut milik sang adik, diikuti dengan omelan mengenai pekerjaannya sebagai asisten profesor di Akademi Mirwall. Gadis itu mungkin tidak mengerti—atau barangkali belum, Jim harap—tapi pekerjaan ini adalah segalanya bagi sang lelaki. Sejak dulu ia memang bercita-cita menjadi seorang pengajar di akademi, dan kini setelah ia mulai bisa menggapainya, ia harus dihadapkan dengan realita bahwa hubungannya dengan sang adik malah merenggang.

“Baiklah, cukup untuk hari ini.”

Berujar pada dirinya sendiri, Jim lantas bangkit. Sebelah lengan membuat gerakan menyapu di atas meja, dalam sekejap mata merapikan tumpukan perkamen, daftar nilai, buku-buku, hingga kuas dan tinta yang bertebaran. Seluruh benda itu melayang dengan patuh, sementara Jim membuka tas selempang miliknya dan meletakkannya di meja. Satu ayunan lain ia lakukan—kali ini agar semua benda itu meluncur masuk ke dalam tasnya dengan rapi.

Seraya menyampirkan tas, Jim bergegas keluar dari ruangannya dan menuruni tangga putar. Akademi Mirwall memiliki tiga menara yang menjulang menemani bangunan utamanya: satu di sisi kanan, satu di kiri, dan yang terakhir serta paling besar berada tepat di tengah. Menara sisi kanan dan kiri diperuntukkan sebagai ruang kelas dan perpustakaan, sedangkan menara di tengah adalah kantor bagi para profesor serta asisten sepertinya.

Terkadang, Jim masih tidak menyangka ia bisa memiliki ruangan di bagian menara yang ini.

Sebagai murid dulu, ia hanya bisa berandai-andai. Menjadi seorang guru adalah ketertarikan tersendiri baginya, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan selepas kelulusan. Maka, empat tahun silam, ketika ia dinyatakan sebagai lulusan terbaik dan ditawari posisi sebagai asisten profesor, ia sama sekali tidak berpikiran untuk menolak.

Ia memiliki tujuan, dan ia tidak akan menyerah sampai ia berhasil mencapainya.

“Tuan Carter?”

Salah seorang siswi berambut merah keriting berdiri di dasar tangga, lengan memeluk tumpukan buku-buku mantra. Jim mengenalinya sebagai salah satu murid di tingkat delapan—tingkat terakhir di Akademi Mirwall—yang tadi terus-menerus gagal dalam melakukan mantra penyamar di kelasnya.

“Ya?”

“Uh….” Siswi itu menggeser posisi berdirinya, terlihat gugup. “Aku sudah mempelajari mantranya lagi, dan… dan….”

“Kau mau aku melihat apakah kau sudah melakukannya dengan benar atau belum?” Jim menebak, sedikit mengulum senyum geli saat siswi itu buru-buru mengangguk dan meletakkan buku-buku yang ia bawa di lantai. “Baiklah, kurasa aku masih punya sedikit waktu untuk itu.”

“B-baiklah.” Si rambut merah berdeham, kemudian memejamkan mata untuk berkonsentrasi. Aliran energi sihir lamat-lamat terbentuk, berkeriap di sekeliling tubuhnya. Penampilannya perlahan berubah, rambut keriting merah menjadi hitam nan lurus, kulitnya yang putih sedikit menggelap, pipinya menjadi makin tirus, dan—

Satu kerjapan mata dan penyamaran itu seketika lenyap.

“Sudah lebih baik dibandingkan saat di kelas tadi.” Jim langsung berucap sementara muridnya menggigiti bibir, mencoba membesarkan hati. “Kau hanya perlu memfokuskan pikiran pada penampilan yang diinginkan. Pastikan gambaran itu sudah ada di otakmu secara menyeluruh, bukan sebagian saja. Mengerti?”

Si rambut merah mengangguk, membungkuk dalam-dalam. “Terima kasih banyak, Tuan Carter. Aku akan melatihnya lagi nanti!”

Jim mengulas senyum tanda bahwa ia tak keberatan, mengucap permisi sebelum beranjak pergi lebih dulu. Jujur saja, ia sedikit terkejut saat mendapati ada murid yang masih bertahan di sekolah hingga selarut ini hanya demi mempelajari sebuah mantra. Bahkan, adik perempuannya yang dulu juga mengalami kesusahan dengan mantra tersebut saja tidak—

Ah, benar! Adiknya akan marah jika ia tidak lekas pulang!

Menyadari bahwa ia terlampau larut dalam rasa puas—Jim selalu begitu setiap ia bisa memberikan saran pada mereka yang butuh bantuannya—sang lelaki mulai mempercepat gerak tungkainya. Ia melintasi aula depan dan halaman Akademi Mirwall, kemudian menyeberangi jembatan batu yang menghubungkan kompleks sekolah dengan Desa Verella. Ia bahkan nyaris berlari saat memasuki pusat desa, menyusuri jalan setapak berliku yang akan membawanya menuju rumah.

Hanya untuk mendapati, bahwa tidak ada seberkas cahaya pun yang tampak dari jendela bangunan berbentuk tabung dan beratap kerucut tersebut.

Adiknya belum pulang.

Jim menarik kunci dari kantong di sisi dalam jubahnya, memutar hingga “klik” samar terdengar sebelum mendorong pintu kayu yang sudah berderit-derit. Sesuai dugaan, ia tak menjumpai sosok berambut cokelat sepunggung itu. Alih-alih, ia malah menemukan selembar perkamen yang ditempelkan di atas meja kayu—pesan yang membuat ia mengeluarkan erangan sebal.

Aku sedang ke rumah Xavier. Sampai nanti.

.

.

.

4: Skye


Iris Skye bergerak mengikuti Xavier, yang baru saja meluncur turun ke lantai satu setelah ia mengantarkan roti pada sang ibu.

Menangkupkan jemarinya di sekitar cangkir berisi cokelat hangat, Skye menanti sampai Xavier ikut duduk bersama mereka. Tapi, saat Xavier akhirnya mengempaskan diri di atas kursi kayu, Skye malah bungkam. Ekspresi lelaki itu tampak lebih muram dibandingkan tadi saat ia datang ke Cassia Rush—membuat Skye mendadak enggan dan bingung harus memulai dari mana.

Sampai deham kecil terdengar dari sisi kirinya.

“Skye berkata kalau kau punya cerita baru.”

Skye menoleh cepat, memberi tatap memperingatkan ke arah Finn. Ia tak yakin apakah mengungkit topik itu tanpa diawali basa-basi adalah hal yang tepat. Tidak karena ia kembali teringat dengan ekspresi merana Xavier, yang entah mengapa ia anggap sebagai bentuk rasa rindu si petualang terhadap dunia yang lain tersebut.

Namun, Skye tidak sepenuhnya benar.

Xavier mendongak secepat yang ia bisa. Kepala lantas mengangguk-angguk seolah ia baru teringat maksud kedatangan Skye dan Finn kemari, kelegaan sepintas tampak meski sedikit rasa rindu juga masih terpeta di sana. Kendati begitu, ia jelas berusaha untuk terlihat bersemangat saat berujar, “Sampai mana obrolan kita tadi?”

“Mmm… sampai kau merindukan dunia itu namun tidak ingin kembali?”

“Ah, benar.” Xavier menopangkan dagunya pada kedua tangan yang ditautkan, tampak serius. “Aku tidak bisa kembali.”

“Tidak bisa?”

“Ini rahasia, mengerti?”

Skye dan Finn bertukar pandang, lantas mengangguk kompak.

“Sebenarnya, diam-diam aku mengunjungi tempat itu lagi,” bisik Xavier, meskipun mereka hanya bertiga di lantai bawah dan kecil kemungkinan jika ibu sang lelaki menguping. “Ke Gunung Nix, tempat di mana portal itu pertama kutemukan.”

“Kau mengunjunginya lagi?” Skye kini benar-benar tertarik, mencondongkan tubuh sampai ia nyaris menyenggol cangkir yang separuh terisi. “Kalau begitu, kau juga berkunjung ke dunia itu lagi?”

Xavier mengulum senyum. “Sayangnya tidak.”

“Kenapa? Karena kau tidak mau kembali?”

Xavier tidak langsung menjawab pertanyaan Skye itu. Sejenak ia terlihat ragu, berusaha untuk tidak bertemu tatap ataupun memandang sang gadis. Kepalanya ditolehkan ke arah jendela yang kusam, memandangi kerumunan bunga lili putih yang baru saja mekar dan tampak kontras dengan kegelapan. Barulah ketika detik berlalu dan rasa canggung merebak, Xavier pun akhirnya bergumam enggan, “Aku tidak bisa melewati portalnya.”

“Apa?” Suara Skye terdengar jauh saat ia membalas, penuh ketidakpercayaan. “Apa maksudmu portalnya tidak bisa dilewati?”

Finn mengulurkan tangan, refleks menggenggam jemari Skye yang gemetar.

“Kali pertama aku kembali ke sana, portalnya tidak ada,” lanjut Xavier, masih dalam suara kecil. “Kali berikutnya, portal itu muncul tapi terlalu samar, sehingga aku tidak berani mencoba.” Tarikan napas terdengar, oksigen memasuki paru-paru sebelum melanjutkan, “Dan beberapa minggu lalu, aku memberanikan diri mencoba meskipun portal itu masih terlihat tidak meyakinkan. Namun, pada akhirnya, aku tidak berpindah tempat ke mana pun.”

“Menurutmu portalnya rusak?” Kerutan terbentuk di kening Skye, yang kentara sekali ingin mendengar kata ‘tidak’ sebagai jawaban. “Mungkinkah itu terjadi?”

“Aku tidak tahu,” kata Xavier jujur. “Lagi pula, dari semua orang yang pergi, hanya aku saja yang kembali. Barangkali, portal itu memang tidak punya aturan yang jelas dalam bekerja. Seperti sebuah keberuntungan.”

“Keberuntungan,” ulang Skye, meski nadanya tidak lagi bersemangat.

Xavier mengiakan. “Maksudku… kenapa aku mendapat kesempatan untuk kembali, Skye? Malam itu, di dunia sana, aku sekadar berjalan-jalan ke tempat di mana aku pertama muncul. Aku berpikir mengenai betapa aku merindukan Verella, dan tahu-tahu saja portal itu membuka di depan mataku. Namun, ini tidak berlaku bagi yang lain, kan?”

“Seperti sesuatu yang acak.” Finn buka suara, menyimpulkan.

“Bukan ini yang kuharapkan,” gerutu Skye, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bagaimana kalau portal itu benar-benar rusak dan tidak ada lagi yang bisa melewatinya?”

Kedua lelaki yang ada tak menjawab, sama-sama bungkam dan membiarkan kesenyapan merambat.

Semenjak Xavier pulang dari dunia yang lain itu dan menceritakan semua pengalamannya, Skye memang sudah bermimpi untuk menjejakkan kaki ke sana. Ia—serta Finn—adalah segelintir orang yang percaya bahwa Xavier menyatakan fakta. Bahwa dunia lain itu benar-benar ada, pun dengan manusia-manusianya yang hidup tanpa memiliki kekuatan sihir.

Skye sudah mendengar segalanya.

Ia sudah mendengar bagaimana para manusia di dunia sana memiliki kehidupan yang lebih luas, hidup yang tanpa batas dan mengizinkanmu untuk menggapai apa saja. Mereka tidak mengenal sihir, tapi mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau. Dunia itu juga lebih berwarna. Xavier pernah berkata bahwa kau bisa mendapat pekerjaan hanya dengan keahlian bernyanyi, bercerita, bermain alat musik, bermain peran, hingga berdansa.

Sungguh berbeda dengan dunia tempatnya tinggal, di mana sihir adalah satu-satunya kemampuan yang dianggap berguna dan harus dikuasai, atau kau akan langsung dicap sebagai seseorang yang berstatus rendah, merepotkan masyarakat, dan pantas diabaikan.

Skye sudah bosan terkurung di desa ini.

“Maafkan aku,” bisik Xavier, memecah hening. “Aku tahu kalau kau begitu ingin melihat dunia itu—“

“Aku akan menemukan jalan,” potong Skye. Mengingat betapa memuakkannya kehidupan di sini membuat emosinya melonjak, mendorong keraguannya menjauh. Xavier boleh berkata bahwa belakangan portal itu menjadi aneh, tapi Skye yakin—masih ingin meyakini—bahwa hal itu hanyalah gangguan sesaat. “Kita pasti akan menemukan jalan. Iya, kan?”

.

.

.

5: Finn 


Finn terus-menerus mengawasi Skye dari ujung matanya.

Seraya keduanya melangkah melewati toko-toko yang sudah tutup, Finn diam-diam berharap untuk melihat Elmacherie—toko yang menjual berbagai manisan dan es—masih buka. Ia akan dengan senang hati membelikan Skye manisan apel berlapis krim vanilla dingin favoritnya, apa pun agar gadis itu tidak terlihat murung.

Mereka sudah berteman sejak tahun pertama sekolah, ketika umur keduanya masih dua belas tahun. Finn tahu segalanya tentang Skye, sebagaimana Skye tahu semua rahasia-rahasia dalam kehidupan Finn. Barangkali, gadis itu jugalah alasan mengapa Finn masih tetap bertahan dan tidak—

“Finn.”

Skye tahu-tahu berhenti, menghampiri kolam bulat dengan patung dua ekor merpati yang memancarkan air dari paruh mereka. Tempat ini adalah pusat alun-alun desa, yang terletak tak jauh dari rumah Xavier. Kecuali festival musim panas atau pesta akhir tahun sedang diadakan, alun-alun ini biasanya hanya dijadikan lapangan bermain atau bercengkerama para murid sepulang sekolah. Sedangkan di malam hari seperti sekarang, tempat ini praktis sepi dari pengunjung.

“Kenapa?”

Mendudukkan dirinya di tepi kolam batu, Skye menarik napas panjang. Finn ikut duduk di sampingnya, bersama-sama mengedarkan pandang ke seluruh Verella.

Pada saat-saat seperti ini, ketika langit menggelap, bintang bertaburan, rembulan bersinar pucat, dan debu galaksi tampak samar di angkasa, Verella akan terlihat berkali lipat lebih indah. Ada suatu ketenangan yang melingkupi semuanya, berbaur dengan bola-bola cahaya jingga yang tersebar di atas jalan setapak tiap beberapa meter sekali. Setiap bangunan yang ada—rumah-rumah yang beraneka ragam, pondok kayu serta lumbung, toko-toko dan kedai makan, balai pertemuan, hingga Akademi Mirwall di selatan sana—berdiri berdampingan membentuk siluet yang tak beraturan namun tetap indah dipandang. Kemudian, di sebelah utara, tepat di depan matanya saat ini….

“Aku benar-benar ingin ke sana, Finn.”

…adalah hamparan perbukitan, yang berbatasan dengan Hutan Sylvan dan Gunung Nix di sisi timur laut desa.

“Aku tahu.” Finn ikut mengamati Gunung Nix yang diselimuti salju abadi. “Aku tahu kalau kau selalu ingin ke sana, bahkan sejak kita belum lulus dulu.”

“Apa kau akan ikut denganku?”

Pertanyaan itu berarti banyak, dan dari tatap lekat yang diberikan Skye kepadanya, Finn tahu bahwa lagi-lagi ia tidak bisa menolak. Tidak karena tawaran itu juga menggiurkan baginya, tidak karena ia juga kerap memimpikan jenis kehidupan yang lain.

“Untuk apa kau bertanya kalau kau tahu jawabanku?” Finn mengulurkan tangan, hendak mengacak-acak puncak kepala Skye tapi mengurungkan niatnya. Memasukkan jemarinya ke saku jaket abu-abu kusamnya, Finn lantas menambahkan, “Kehidupanku toh belum dan tidak akan berubah.”

Merasakan ekspresi meminta maaf Skye yang saat ini ditujukan padanya, Finn memilih untuk melempar tatap menerawang ke hamparan perbukitan. Pikiran melayang ke rumahnya yang terletak di salah satu kaki bukit, sebuah bangunan mungil yang terbuat dari batu dan berbatasan langsung dengan peternakan kecil milik ayahnya. Dulu sekali, Finn menyukai rumah itu dan suasana yang ada lebih dari segalanya.

Sekarang, ia….

“Mau menginap di tempatku?”

Seolah bisa membaca pikirannya, Skye melompat berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Finn. Kepala dikedikkan ke jalan setapak yang ada di sisi kanan, mengarah ke rumah milik keluarga Carter yang memiliki ukuran dua kali lipat rumahnya dan dikelilingi oleh taman bunga. Tambahan, rumah itu pasti sepi lantaran Skye hanya tinggal bersama dengan kakak lelakinya.

Tuan dan Nyonya Carter sudah meninggal saat Skye berada di tingkat dua dulu, ketika usianya baru menginjak angka tiga belas sementara si kakak berumur enam belas. Mereka hanya hidup berdua sejak saat itu, menggunakan sisa kekayaan orangtua mereka yang memang dipandang sebagai orang terhormat di desa. Ayah Skye adalah seorang profesor di akademi, sementara ibunya adalah pembuat ramuan hebat yang bekerja di kota Friena—kota terdekat dari desa ini—sebagai herbalis andal. Pernah ada fase ketika orang-orang begitu mengagumi mereka, meskipun tampaknya Skye tidak pernah merasa demikian.

“Finn? Lebih baik kau ke rumahku daripada pulang, kan?”

Satu senggolan pada pinggang menyentakkan Finn dari lamunan.

Detik berikutnya, ia mengiakan tanpa ragu.

Alasannya sederhana saja.

Ini bukan masalah rumah siapa yang lebih bagus atau semacamnya.

Tapi, asalkan ia punya alasan untuk kabur dari apa dan siapa yang ada di dalam rumahnya, maka Finn pun akan mengambil kesempatan itu.

.

.

.

6: Jim


Ia terbangun secara mendadak.

Terguling dari sofa tempat ia jatuh tertidur semalam, Jim nyaris saja membenturkan hidung pada meja berkaki rendah yang ada di sampingnya. Kelopak mengerjap cepat untuk menghilangkan kantuk, selagi ia menyisirkan jemari pada rambut cokelat karamelnya yang dipotong cepak. Suasana senyap menyambut, dan Jim butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa ia bangun terlalu pagi.

Lantai dasar rumahnya tampak seperti biasa—ruang depan dipenuhi tumpukan buku dan kertas, dapur yang belum dibersihkan, tetes air di bak cuci yang konstan karena kerannya sedikit bocor, serta meja makan yang menguarkan hawa nostalgia sampai Jim enggan berlama-lama memandangnya. Tidak ada yang berubah di rumah tempat ia lahir dan tinggal hingga sekarang, kontras dengan hidupnya yang sudah mengalami terlalu banyak perubahan sampai-sampai tak bisa dihitung jemari.

Sang lelaki menghela napas, tahu bahwa berlarut-larut dalam memori tak akan ada gunanya.

Bangkit berdiri, Jim berjalan lamat-lamat ke arah dapur. Maksud hati hendak mengambil segelas air, tapi langkahnya berhenti saat ia melihat dua pasang sepatu yang berjajar di dekat pintu depan. Detik itu juga, Jim teringat alasan mengapa ia tertidur di ruang depan alih-alih menjatuhkan diri di atas kasurnya yang berada di lantai dua.

Mengubah tujuannya, Jim berderap menaiki tangga lingkar yang bermula dari tengah ruangan dan membujur ke sisi kiri bangunan. Keriut kayu yang sudah tua terdengar, sampai ia berhenti di puncak tangga untuk memandangi pintu-pintu menuju kamar yang tertutup rapat. Kamar Skye berada di pojok terjauh, berbatasan langsung dengan teras yang menjorok keluar.

Jim melangkah ke sana, baru akan mengetuk ketika pintu yang menuju perpustakaan milik ayahnya dulu tahu-tahu terbuka.

“Oh, ternyata benar.”

“Benar?”

Finn menggaruk tengkuk, masih berdiri di ambang pintu. “Kupikir aku mendengar suara seseorang menaiki tangga dan….”

“Skye?”

“Di kamarnya.” Finn langsung menjawab. “Aku tidur di sofa perpustakaan seperti biasa, Jim, kalau kau ingin—“

“Ia masih bersemangat soal itu, ya?” Jim memotong. “Semua hal soal petualangan Xavier, dunia yang lain, dan semacamnya itu?”

Yang ditanya tak yakin harus menjawab apa selain mengangguk.

“Dan ia menyeretmu ke sana semalam?” tanya Jim, lantas lekas-lekas mengibaskan tangan saat ia melihat ekspresi Finn yang ragu. “Lupakan. Aku akan berbicara dengannya sendiri saja.”

Jim melanjutkan langkahnya, tidak menunggu Finn untuk mengiakan ataupun mengucapkan rasa ingin tahunya. Lelaki itu memasuki kamar Skye yang tidak dikunci tanpa permisi, terkejut saat ia melihat adiknya sudah dalam posisi duduk seraya menyilangkan kedua lengan.

Terkadang, Jim lupa jika Skye dan Finn memiliki kesamaan dalam hal tidur. Mereka mudah sekali terbangun, bahkan oleh suara sekecil derit pintu sekalipun.

“Kau membuatku terlihat seperti sudah melakukan sesuatu yang buruk.” Skye mengerutkan alis, mengayunkan kakinya ke sisi tempat tidur dan melempar selimut kain percanya menjauh. “Kenapa kau—“

“Tahukah kau betapa khawatirnya aku semalam? Aku menunggumu sampai tertidur dan kau malah—”

Skye merengut, tampak tak percaya. “Ini bukan pertama kalinya aku berkeliaran dengan Finn. Kurasa, yang membuatmu cemas itu bukan perkara pergi-berduaan-hingga-larut-malam.”

“Skye….”

“Kau memikirkan apa kiranya yang kudengar di rumah Xavier,” ucap Skye terus terang, seolah ia bisa membaca pikiran sang kakak. “Apa saja informasi yang kuperoleh, apa yang ada di pikiranku saat mendengarnya, dan apa keputusan yang akhirnya kubuat. Aku benar, kan?”

Jim tidak mengiakan, namun garis rahangnya yang tegas mengeras saat ia memalingkan wajah ke arah luar jendela. “Aku tidak ingin terjaga dan mendapati bahwa kau ada di luar sana. Pergi ke Gunung Nix, melakukan tindakan bodoh yang bisa membahayakan nyawa.”

“Tindakan—“

“Berhentilah bersikap seperti anak-anak, Skye. Dua tahun lalu, cerita Xavier memang terdengar menarik. Kita semua tertarik dan penasaran. Tapi, itu tidak sama artinya dengan kau harus ikut melakukannya.”

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu apa maksudku, Skye.”

Sang gadis berdecak. “Tidak, aku tidak tahu. Jelaskan padaku, Jim. Kenapa kau marah-marah begini, sih?”

“Sebenci itukah kau padaku sekarang, sampai-sampai kau begitu ingin pergi meninggalkanku?”

Begitu kata-kata itu meluncur dari mulutnya, Jim menyesal. Ia bisa melihat bagaimana ekspresi saudarinya berubah, dari kekesalan menjadi ketidakpercayaan.

“Benci?” Skye mengeluarkan tawa sarkastis. “Itukah yang kau inginkan, Jim? Kau ingin aku membencimu?”

“Aku… aku tidak….”

“Atau mungkin, kau ingin aku pergi saja? Karena aku bukan adik yang berguna dan bisa dibanggakan?”

Tuduhan itu ganti membuat Jim terpaku. Tadi, ia hanya ingin menyampaikan rasa cemasnya. Sekarang, mengapa arah pembicaraan mereka menjadi tidak menyenangkan seperti ini?

“Aku tahu apa maumu, kakakku sayang.” Skye melanjutkan, nadanya masih dipenuhi oleh sindiran. Sang gadis memutar bola mata, tampak jengkel. “Jadi, berhentilah bersikap pura-pura baik padaku.”

“Aku tidak sedang berpura-pura, Skye. Aku hanya tidak ingin kau mengambil keputusan yang salah dan—“

“Terserah.” Skye menyambar jubah abu-abu favoritnya, memotong kata-kata Jim. Kaki lantas berderap pergi sebelum bisa dicegah, abaikan fakta bahwa rambutnya masih berantakan dan bajunya belum diganti sejak kemarin.

Ia juga mengabaikan Jim yang hanya bisa mengulurkan tangan, hendak menahan tapi malah ditepis kasar.

“Kupikir kau kakakku. Tapi, kenapa kau tidak mengerti?”

Brak!!

Pintu terbanting setelahnya, menghalangi sosok gadis itu dari pandangan.

Meninggalkan Jim sendiri, terkurung di dalam kamar yang menguarkan aroma khas adiknya dan mengimpitnya dalam rasa bersalah.

.

.

.

7: Skye


“Skye?”

“Ayo pergi dari sini.”

Menarik Finn yang terbengong di koridor dan terus-menerus menoleh ke arah kamarnya, Skye berdecak keras. Kepala dan telinganya masih berdengung, seakan ada yang baru saja menghantamkan kuali timah seberat puluhan kilogram ke atasnya. Namun, perumpamaan itu berlebihan, bukan? Apa yang menghantamnya hanyalah kata-kata sang kakak, sesuatu yang abstrak tapi entah mengapa sukses membuat kedua bola matanya memanas.

“Bagaimana dengan—“

“Kau ini sahabatku, kan?”

“Apa kau bertengkar dengan Jim?”

“Finn.”

“Skye, apa kau menangis?”

Skye refleks mengangkat sebelah tangan, mengusap sebulir air yang hampir jatuh dengan jengkel. “Aku bisa meninggalkanmu di sini kalau mau.”

“Kau tahu aku tidak bermaksud—“

“Kalau begitu, ayo.” Skye memberi penekanan pada kata terakhirnya, tanda bahwa ia tak mau melanjutkan perdebatan. Gadis itu tahu jika Finn bisa menjadi begitu keras kepala dalam menghadapi beberapa hal, namun bukan berarti ia akan mengalah. Sekali ini saja, Skye hanya ingin keegoisannya menang, ingin memiliki perhatian sang sahabat untuk dirinya sendiri.

Desah napas terdengar di belakangnya.

“Kau berutang penjelasan padaku.”

Finn meraih jubah abu-abu yang tersampir di tangan Skye, memakaikannya dan menarik tudungnya untuk menutupi raut muka acak-acakan gadis itu. Telapak tangan bergerak untuk meremas jemari Skye lembut, mengaitkannya dan mengajak sahabatnya segera keluar. Mereka tidak berkata apa-apa sampai pintu depan terbanting menutup, sampai keduanya melangkah di sepanjang jalan setapak yang masih sepi tanpa tujuan.

“Ceritakan sesuatu untuk mengalihkan perhatianku,” ujar Skye ketika mereka sudah dekat dengan air mancur di pusat desa. Masih terlalu pagi bagi toko-toko yang ada untuk buka, pun bagi para warga untuk keluar dari rumah dan beraktivitas. Hawa dingin khas perpaduan akhir musim dingin dan awal musim semi menggelitik hidungnya, berembus perlahan sementara kelopak-kelopak kecil bunga mulai menampakkan diri. Suasana ini terasa mengejek dirinya yang sudah melontar amarah pagi-pagi, yang merusak keheningan dunia serta menodai cerahnya mentari di ufuk timur sana.

“Sesuatu seperti apa?”

Skye melempar delikan ke arah Finn, yang meringis kecil sebagai balasan. Berdua mereka menduduki salah satu bangku batu yang tersebar di tepi alun-alun, menunggu sampai pintu rumah keluarga O’ Connor—yang setiap pagi berjualan roti hangat dan empuk di Verella—terbuka.

Sang gadis mengetuk-ngetuk lutut, mencari-cari topik pembicaraan yang tidak berhubungan dengan Jim ataupun rumah.

“Kau tahu… soal Xavier…” Akhirnya Skye memulai, memilih satu insiden yang masih teringat di otaknya. “Kemarin ia terlihat muram, dan aku berpikir itu ada hubungannya dengan kerinduan Xavier terhadap dunia yang pernah ia kunjungi. Atau bisa jadi, itu ada hubungannya dengan portal yang tidak lagi berfungsi. Bagaimana menurutmu? Apa aku… kita… benar-benar tidak punya harapan?”

“Ah, soal itu….”

“Jangan bilang kau mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui.”

“Sesuatu seperti portal itu bekerja lebih kuat saat bulan purnama tiba?”

“Sungguh?” Skye menegakkan tubuh, tanpa sadar beringsut mendekati Finn. “Kau dengar dari—“

“Kau percaya padaku, ya?”

Sekon berikutnya, gelak tawa Finn sudah terdengar membahana. Beberapa ekor burung yang kebetulan hinggap di dahan pohon dekat mereka bahkan langsung beterbangan, barangkali sama tersinggungnya dengan Skye yang sekarang mendaratkan pukulan pada pundak Finn.

“Itu tidak lucu, Finn Sinclair!!”

“Aku tidak bermaksud melucu, Nona Carter.”

“Kau menyebalkan.” Skye mengerucutkan bibirnya, enggan mengakui jika candaan kecil yang dilontarkan Finn sesungguhnya telah berhasil mengalihkan pikirannya dari Jim. “Aku sungguh-sungguh bertanya, tahu.”

“Aku tahu. Aku hanya….” Ekspresi Finn mendadak berubah serius. “Aku ingin berkata kalau kita punya harapan, tapi kau sendiri tahu kalau aku tidak pandai dalam hal-hal macam itu.”

Mendengarnya, Skye langsung menoleh. Manik bergerak memandangi lelaki berambut hitam kelam serta berkulit pucat yang sudah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun, menangkap mimik putus asa yang sudah lama ia kenal, iris birunya yang penuh rahasia, serta bibir tipisnya yang lebih sering terkatup rapat saat mereka bersekolah dulu. Kecuali saat sedang bersamanya, Finn bukanlah tipe orang yang suka memulai pembicaraan.

Dan Skye tahu alasannya lebih baik dari siapa pun.

“Ma—“

“Aku yang minta maaf,” sambar Finn tanpa jeda, membalas tatapan Skye. “Aku sama tidak tahunya denganmu soal portal itu. Namun, soal mengapa Xavier terlihat muram… kurasa ia punya alasan lain.”

“Alasan lain?”

Finn berdeham. “Aku tidak suka melihatmu ikut sedih karena memikirkan Xavier yang belakangan terlihat muram. Maksudku… kau pasti mengaitkan semua itu dengan kemungkinan bahwa portal menuju dunia sana tidak akan berfungsi lagi dan….”

“Finn, langsung ke intinya saja.”

“Masalah Xavier bukan hanya soal apa ia bisa kembali ke dunia sana atau tidak.” Finn menggeleng perlahan. “Bukan itu yang ada di pikirannya sekarang. Ini… ini soal ibunya.”

Respons Skye adalah membisu. Ibu Xavier memang sudah sakit parah selama beberapa tahun terakhir ini. Herbalis dan beberapa ahli ramuan di desa juga sudah menyerah, tak bisa menemukan racikan obat yang tepat. Beberapa warga yang hobi bergosip bahkan membuat kabar jika penyakitnya itu diakibatkan oleh kutukan dewi penjaga Gunung Nix, yang marah lantaran Xavier berhasil kembali alih-alih menjadi korban. Skye tidak percaya, tentu saja.

“Sepertinya penyakit ibu Xavier bertambah parah.”

“Dia… memberitahumu?”

“Dia berkunjung ke The Apollinaris beberapa hari lalu. Bertanya apakah Tuan Cars tahu tanaman terbaik yang dapat diracik sebagai pereda rasa sakit.”

“Ah.”

Skye tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Ia bersimpati terhadap keadaan Xavier, namun ia tidak bisa melakukan lebih dari itu. Skye tidak tahu bagaimana caranya berpura-pura dengan baik, terlebih jika hal itu menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana-keluarga-normal-seharusnya-bersikap. Bagaimanapun juga, hatinya sudah lama terasa begitu kebas. Tak mampu merasa, kecuali membenci fakta bahwa hidupnya tidak berjalan layaknya orang-orang normal.

Skye memejamkan mata, mengingat saat ketika ia dan Jim baru saja pulang dari Akademi Mirwall bertahun lalu dan kabar kematian itu tiba di telinga.

Ayah dan ibunya meninggal akibat kecelakaan dalam sebuah percobaan. Mereka berdua sama-sama berada di kota Friena kala itu—ayahnya mengambil cuti dari jadwal mengajarnya di Akademi Mirwall—untuk mendampingi sang istri. Kabar menyatakan bahwa mereka sedang mencoba melakukan sihir kuno serta meracik ramuan jenis baru, sampai sebuah kecelakaan terjadi dan mantra yang digunakan berbalik menghabisi keduanya.

Ia dan kakaknya sudah menerima banyak tatapan kasihan serta kalimat duka penuh kepura-puraan. Namun, itu belum cukup. Itu tidak pernah cukup, karena bagi warga Verella, keluarga Carter tak lagi dianggap sebagai keluarga yang terhormat. Sebenarnya Skye sendiri tidak begitu ambil peduli—toh ia sendiri tak berduka hingga sebegitu besarnya, menangis berhari-hari, atau meratapi keluarganya yang mendadak tidak utuh. Tidak. Skye hanya merasa kosong, seolah sesuatu yang penting telah dicerabut dari tubuhnya, namun ia tidak ingin mengerahkan tenaga untuk menggapainya kembali.

Lagi pula, ia adalah anak yang tidak pernah dianggap ada.

Jadi, untuk apa ia lama-lama bersedih?

“Skye?”

Finn menyentuh pundaknya lembut, mendorong Skye untuk mendongak dan mengulas senyum simpul. Sang lelaki adalah satu-satunya orang yang tahu mengenai perasaan Skye terhadap orangtuanya, yang senantiasa ada saat semua emosi itu kembali melonjak ke permukaan. Finn telah membuktikan bahwa ia bisa dipercaya, namun untuk hari ini, Skye rasa ia butuh waktu sebelum bercerita.

“Kau bekerja hari ini?” Skye mengalihkan tatapnya ke jendela depan rumah keluarga O’ Connor, yang sudah terbuka dan menampakkan meja berisi tumpukan roti.

“Ada pesanan dari Akademi, jadi kurasa aku akan sibuk hari ini. Kau?”

Mereka sudah berjalan menuju rumah keluarga O’ Connor, memesan dua roti madu sementara Finn merogoh sakunya untuk mencari batangan tembaga mungil yang digunakan sebagai alat pembayaran.

“Hari ini jadwal kerjaku kosong,” balas Skye, menerima roti dari Finn dan mengendus aroma manis itu sepenuh hati. “Um, Finn… soal yang di rumah tadi….”

“Aku akan menemuimu sepulang kerja nanti.” Finn menggigit rotinya sendiri, mengunyah dan menelannya sebelum melanjutkan, “Mungkin aku harus pulang dulu untuk berganti baju, tapi aku akan menemuimu setelah itu. Bagaimana?”

Skye langsung menyetujui, lega bukan main karena Finn mengetahui isi pikirannya dan tidak memaksanya untuk langsung bercerita. Dengan begini, ia akan punya waktu seharian untuk menata segala yang berkecamuk di dalam otaknya. Untuk menyusun kata-kata, kemudian mengakui satu hal yang selama ini enggan ia akui.

Bahwa ia, Skye Carter, merindukan sang kakak yang dulu lebih dari apa pun juga.

.

.

.

8: Jim 


Langkah kakinya sepanjang hari ini terasa begitu berat.

Kau bodoh, Jim Carter!!

Sibuk merutuki dirinya sendiri, Jim sama sekali tak memerhatikan ke mana dirinya melangkah. Masih ada enam jam lagi sebelum ia harus mendampingi Profesor Harwood mengajar kelas Pengantar Mantra, enam jam kosong yang pasti akan menyiksa pikirannya. Jim masih membenci mulutnya yang sudah asal bicara—kendati di sisi lain, ia juga tak bisa menampik bahwa hal semacam itulah yang tepatnya ia khawatirkan selama ini.

Ia tidak membenci Xavier, sungguh.

Tapi, semenjak lelaki itu kembali dan membagi semua ceritanya, Jim takut jika Skye berubah. Ia takut jika adiknya suatu saat akan pergi, meninggalkannya seorang diri dan melupakan janji yang pernah mereka buat dulu. Jim pikir, sebagai kakak-beradik yang sebatang kara, mereka akan terus bersama dan saling mendukung. Namun, bagaimana jika kenyataan berkata sebaliknya?

Ia tidak siap untuk itu.

Melarikan jemari untuk mengusap rambutnya, Jim menghentikan langkah dan mendongak. Kakinya telah membawa ia ke ambang perpustakaan, yang pintunya terbuka lebar dan menampakkan meja melingkar tempat pustakawan biasanya berada. Namun, hari ini, tempat itu kosong. Lelaki yang berusia setahun lebih tua dari Jim itu tak ada di sana, mungkin sedang menata rak di pojok belakang atau membantu murid-murid mencari buku.

Kalau begitu, tidak ada yang akan mencurigainya, bukan?

Jim mengerjap, kemudian menggeleng bingung.

Apa yang sedang ia pikirkan?

Mengedarkan netranya dari sisi kiri ke kanan, Jim bisa melihat puluhan rak buku yang berjajar rapi. Setiap rak tersebut diberi label, yang menunjukkan jenis-jenis buku apa saja yang tersusun di sana. Mantra Dasar, Sihir Perlindungan, Teknik Bertempur, Ramuan dan Tanaman Herbal, Waktu dan Telaah Masa Depan, Makhluk dan Monster Sihir, kemudian….

Jim meneguk ludah, tatapnya berhenti pada rak di pojok paling kanan.

Sihir dari Masa ke Masa.

Rak “Sihir dari Masa ke Masa” berisi berbagai macam buku sejarah—baik itu sejarah mengenai Verella, Akademi Mirwall, hingga dunia mereka. Jim ingat, betapa jarangnya ia mengunjungi pojok itu saat ia masih bersekolah dulu. Mempelajari sejarah adalah kelemahan terbesarnya, tetapi untuk kali, entah mengapa kakinya malah melangkah ke sana.

Apakah ia berharap untuk mendapat sekelumit pengetahuan mengenai Gunung Nix dan dunia lain itu?

Jim tidak tahu.

Sembari membiarkan jemarinya menelusuri punggung buku dan memilah, pikirannya kembali melayang ke pertengkarannya dengan Skye tadi pagi. Ia mengingat tiap kata yang telah ia lontarkan, ia mengingat kilasan masa lalu yang sering kali menampakkan diri di otaknya. Ia menenggelamkan diri dalam tahun-tahun setelah kepergian orangtua mereka, tahun-tahun ketika hidup terasa berat tetapi Skye tetap bertahan di sisinya. Skye yang itu tidak pernah punya keinginan untuk menjauhinya, tidak juga berpikir untuk kabur ke Gunung Nix demi mencari dunia yang lain.

Kehidupan mereka saat itu, walau jauh dari kata sempurna, tetap terlihat sempurna di mata Jim.

Benarkah?

Ujung telunjuk Jim berhenti di atas sebuah buku—Verella: Desa Sihir Tertua dan Misteri di Dalamnya.

Atau jangan-jangan, hanya ia sajalah yang menganggap jika semuanya telah sempurna?

Jim menarik buku itu keluar, membolak-baliknya hingga ia berhenti di sebuah subbagian. “Gunung Nix” tertulis di bagian atasnya sebagai judul, dilengkapi lukisan hamparan gunung bersalju tersebut tepat di bawahnya. Pupilnya sekarang bergerak membaca tiap subjudul, sampai ia berhenti pada kalimat “Dunia Yang Lain” dan mendapati halaman kosong mengikutinya.

Kosong, seperti hubungannya dengan sang adik saat ini.

Kosong, layaknya dirinya yang mendadak tak bisa memahami perasaan dan tingkah laku Skye barang sedikit pun.

Apakah keegoisan dapat berdampak pada munculnya kekosongan dalam hidupmu?

Jim bertanya-tanya apakah ia egois. Apakah ia telah membuat kesalahan dengan melarang Skye pergi meninggalkannya, apakah ia telah menghalangi keinginan adiknya untuk menjelajahi suatu kehidupan baru. Dengan tiadanya jaminan untuk kembali layaknya Xavier, wajar saja jika ia cemas. Namun, apakah kecemasan itu telah menjelma menjadi sesuatu yang egois? Yang membuat ia tak lagi bisa mengenal adiknya sebaik dulu?

Benarkah ia hanya seorang kakak yang tidak tahu apa-apa?

Sang lelaki menarik napas banyak-banyak, mengusapkan telapaknya ke halaman kosong tersebut. Demi apa pun juga, ia butuh petunjuk. Sesuatu, apa pun, agar ia bisa memahami adiknya maupun misteri mengenai dunia lain tersebut. Ia benci berada di tengah kesalahpahaman, dan satu-satunya tekad yang ia miliki saat ini, tekad yang sejak dulu ia miliki, adalah menemukan cara untuk membuat Skye bahagia.

Tekad yang tampaknya kini tengah mengolok-olok dirinya, membawanya berjalan ke arah yang salah, dan….

Ia terkesiap.

Segala hal yang berkecamuk di pikirannya berhenti bergolak, selagi baris-baris kalimat memunculkan diri di halaman kosong tersebut. Kata demi kata tercetak di tempat telapak tangannya tadi berada, dalam tulisan tangan rapi yang memiliki ujung melingkar. Menyipitkan mata, Jim membawa buku itu lebih dekat dengan wajahnya. Ia memiliki firasat bahwa ia mengenali tulisan tangan ini, bahwa ia telah melihat tiap lekuk dan lengkungan itu sebelumnya. Tulisan ini familiar, tapi kalimat yang tertulislah yang lebih dulu menarik fokusnya.

Portal menuju dunia yang lain itu ada.

Dan ini adalah kisahku yang telah berulang kali pergi dan kembali dari sana.

.

.

.

9: Finn


“Apakah masih ada yang harus saya kerjakan, Tuan Cars?”

Sang pemilik melongok dari tempatnya di belakang meja konter, mengamati hasil kerja Finn yang sudah dibungkus kertas cokelat dan siap diambil oleh kurir dari akademi. Hari masih sore, tetapi setelah menimbang bahwa The Apollinaris agaknya akan sepi pengunjung hingga penghujung hari, Tuan Cars pun menggeleng.

“Stok kita masih cukup banyak dan hari ini adalah hari yang sepi,” sahut Tuan Cars, mengundang Finn mendekat dengan satu jarinya. “Kau boleh pulang cepat setelah menerima ini.”

Sebuah kantong kulit yang diikat diulurkan ke hadapan Finn, bergemerincing. Isinya adalah batangan tembaga dan perak, yang dipandangi Finn dengan iris melebar.

“Ini… ini belum waktunya saya menerima bayaran, Tuan Cars.”

“Beberapa hari ini, aku merasa kau bekerja terlalu keras, Finn.” Tuan Cars meletakkan kantong itu di tangan Finn, menangkup jemari si lelaki dengan gestur memaksa. “Gunakan dengan baik, untukmu sendiri. Jangan terlalu memaksakan diri. Kau akan selalu diterima di sini, kau tahu?”

Finn tahu itu, dan ia harus mati-matian menahan diri agar tak mengeluarkan air matanya atau memeluk Tuan Cars layaknya seorang bocah memeluk ayahnya. Terkadang, ia bahkan berharap agar Tuan Cars menjadi ayahnya. Pria itu adalah satu-satunya orang dewasa yang tampaknya mengerti kesusahan hidup Finn, memahami dirinya yang sejak dulu dianggap sebagai bencana dalam keluarga.

“T-terima kasih. Saya…”

“Belikan dirimu makanan, atau apa pun yang membuatmu senang.” Tuan Cars menepuk lengannya sekilas, memasang senyum bijak. “Kurasa aku juga akan menutup The Apollinaris lebih cepat hari ini.”

Finn mengangguk patuh. “Sekali lagi, terima kasih, Tuan.”

Diikuti denting bel pintu dan gemerincing kantong yang sekarang ia kaitkan di ikat pinggangnya, Finn melangkah keluar. Tungkainya bergerak menyusuri jalan setapak ke utara, melewati toko-toko lain yang dipenuhi pengunjung, beberapa anak kecil yang sedang mencoba terbang dengan menggunakan bubuk ajaib, serta ibu-ibu yang mengobrol di depan salah satu pintu rumah. Sore yang biasa di desa Verella, begitu tenang sampai-sampai Finn ikut mengulum senyum sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.

Seandainya saja hidup selalu bisa terasa senormal dan semudah ini.

Sedikit kemurungan itu kembali datang, membuat Finn menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Jangan hari ini, batinnya berkata, memohon seraya ia melanjutkan perjalanan pulang. Tolonglah, biarkan aku bahagia sehari saja.

Jalanan semakin menanjak, mengarah ke padang rumput yang berada di kaki bukit serta pondok batu yang bersebelahan dengan kandang peternakan. Seekor sapi kurus tampak sedang merumput di halaman berpagar. Finn berhenti di sampingnya sejenak, mengamati sapi tersebut dengan sudut-sudut bibir sedikit terangkat naik.

“Hari yang indah, hm?”

Sapi itu balik memandangnya, sebelum kembali merumput dan menggoyang-goyangkan ekornya seolah mengiakan. Finn mengulurkan tangan untuk menepuk kepala si sapi sekilas, baru kemudian beranjak memasuki rumahnya.

Tidak ada seorang pun yang tampak.

Lega, Finn bergegas menuju kamarnya yang terletak di pojok paling belakang dan bersebelahan dengan tumpukan kayu bakar. Tangannya bergerak cepat mengambil baju ganti, disusul dengan melepas sepatu bot cokelatnya yang sudah kusam. Lelaki itu tak butuh waktu lama untuk berpindah ke kamar mandi, mulai membersihkan diri seraya bernyanyi-nyanyi kecil.

Finn menghabiskan nyaris setengah jam di sana. Ia menikmati kesenyapan yang hanya diusik oleh suara air mengucur, berandai-andai mengenai dirinya yang hidup di sebuah dunia lain. Dunia yang akan menganggap nyanyiannya sebagai sesuatu yang berguna, yang lebih menghargai musik dibandingkan dunia ini. Akankah ia menemukan dunia yang semacam itu, suatu hari nanti?

Dentam keras menggema, mengusik irama yang tengah meluncur dari bibir Finn.

Tersentak, Finn lekas memasang kancing kemeja hitamnya dan menyambar baju kotornya. Lamat-lamat membuka pintu kamar mandi, hanya untuk mendapati seorang wanita yang rambutnya disanggul tengah berteriak-teriak di pintu depan.

“Kenapa kau tidak memberitahuku jika dia sudah pulang, hah?! Tahu begini, aku akan tetap berada di rumah Nyonya Rush!!”

Finn berjengit, tak tahu apakah ia harus terpaku di depan pintu atau beringsut menuju kamarnya.

Suara kapak yang dilempar menghantam batu terdengar dari halaman.

“Mana aku tahu soal itu! Kerjaanku bukan hanya mengurusi anak tak berguna sepertinya!”

Seorang pria, yang memiliki mata sebiru milik Finn namun dengan rambut cokelat pasir serta jenggot tipis, menerobos masuk ke dalam rumah dan mendorong si wanita. Tubuhnya yang tinggi dan lebar sontak membuat Finn mengerut. Ia benar-benar tak bisa bergerak sekarang.

“Kau juga bertanggung jawab atas lelaki payah sepertinya!”

“Kau yang melahirkannya dan kau menyalahkanku?!”

“Aku tidak sudi berhubungan dengan pembunuh sepertinya! Aku baru akan mengakuinya jika ia bisa mengembalikan Fray ke dunia ini!!”

Kalimat terakhir itu adalah pemicunya. Ngeri, Finn mendapati sang pria—ayahnya—tahu-tahu berpaling ke arahnya. Melotot tajam, lantas berdecak muak, “Kau dengar itu, Nak? Melakukan sihir saja kau sering gagal, bagaimana bisa kau mengembalikan Fray ke dunia ini, huh?”

Tidak adil.

Itulah yang tadinya ingin Finn ucapkan, lantaran menghidupkan seseorang yang sudah mati adalah salah satu batasan dalam hukum sihir. Tidak akan ada yang bisa melakukan itu, bahkan seorang penyihir terkuat dan terhebat sekalipun. Fray Sinclair sudah lama tiada. Itu adalah fakta yang selalu disesali Finn, yang ia yakin tak akan bisa diubah sampai—

“Kembalikan anakku, kau lelaki bodoh!” Si wanita berderap maju, menyambar kerah kemeja Finn dan mengguncangkannya keras-keras. “Kembalikan Fray! Aku butuh anak yang bisa dibanggakan! Aku tidak butuh sampah sepertimu!!”

Finn mengatupkan bibirnya, tidak membalas sementara ayahnya menggeram dan kembali melangkah keluar. Pintu terbanting menutup setelahnya, meninggalkan Finn bersama sang ibu yang terlalu dilanda duka untuk berpikir jernih.

“Kau seharusnya minta maaf! Kau yang membuatnya mati!” Satu dorongan. Finn tidak melawan saat punggungnya membentur tembok batu. “Kau tidak merasa malu pada dirimu sendiri?!”

“Fray tidak… kakakku tidak….”

“Kau berani menyebut namanya dengan mulutmu?!” Nyonya Sinclair kembali mendorong Finn, mencampakkannya sampai nyaris tersungkur. Wanita itu kemudian berderap ke kamarnya sendiri, tapi Finn sudah tahu persis apa yang hendak dilakukan oleh ibunya.

“Jangan,” katanya lirih, selagi ia menegakkan tubuh. “Biar aku saja.”

“Ha! Kau merasa bertanggung jawab sekarang?”

Finn tidak langsung membalas. Ia memandang ibunya lurus-lurus, berusaha menekan rasa jijiknya saat ia menyadari bahwa wanita itu tidak seratus persen dalam kondisi sadar. “Aku tidak perlu bertanggung jawab atas apa-apa. Hanya saja, lebih baik aku pergi daripada harus membiarkan kebencianku pada Ibu bertambah besar.”

“Beraninya—“

Ia tidak mendengar kelanjutan dari kalimat itu. Setelah sekian tahun dikata-katai, direndahkan dan dijadikan objek untuk diinjak-injak, Finn sudah muak. Ia akan pergi dari sini sekarang, ia tidak akan kembali apa pun yang terjadi. Menyambar baju-bajunya dan memasukkan semua itu ke dalam tas kain besar, Finn mendapati tekadnya makin bulat. Sepatu botnya kini sudah kembali terpasang, tangannya menyambar satu kantong di dalam lemari yang dipenuhi tabungannya selama ini.

“Finn Sinclair! Apa kau akan lari dari tanggung jawabmu? Beraninya kau pergi sebelum mengembalikan Fray—”

“Berbahagialah, Ibu. Aku sudah menuruti keinginanmu sekarang.”

Duk!

Brak!

Sang lelaki menendang dan membanting pintu, berjalan cepat melintasi halaman. Iris birunya sekilas bertemu dengan sorot merendahkan Tuan Sinclair, yang tengah bersandar di pagar kayu tempat Finn tadi berdiri untuk mengamati sapi peliharaan mereka.

“Kabur dari rumah, ya? Sudah sadar bahwa kau sama sekali tidak berguna? Menghafalkan jenis tanaman-tanaman herbal, hah? Itu sama sekali bukan sihir.”

“Bukan urusanmu.”

“Aku juga tidak butuh anak yang gagal dan mempermalukan keluarga seperti—”

Angin berdesir, mendahului niat Finn untuk mengangkat kepalan tangan dan menghantamkannya pada wajah sang ayah. Di sana, berdiri tak jauh dari pekarangan rumahnya, adalah Skye. Sebelah tangan gadis itu terangkat, mengempaskan udara yang sukses menerbangkan debu dan membuat Tuan Sinclair kelilipan.

“Sialan! Anak yang sama tak bergunanya mau datang membantu rupanya!”

“Tidak berguna? Setidaknya, kami bukanlah bajingan tak punya hati sepertimu!”

Finn merasakan jemari Skye melingkari pergelangan tangannya, menyentakkannya kembali ke realita. Mereka bersitatap sejenak, dan Finn bergerak untuk menautkan jemari mereka sebelum mengajak Skye berjalan menjauh.

“Selamat tinggal, Ayah.”

Ia menggerakkan tungkai tanpa menoleh ke belakang. Genggaman Skye terasa bagai jangkar, menahannya untuk tetap tegak dan mengangkat dagu selagi mereka meninggalkan padang rumput di kaki bukit tersebut. Namun, tepat saat keduanya kembali memasuki area desa yang dipenuhi bangunan, Finn menarik Skye ke arah sebuah gang kecil yang diapit dua bangunan bata berlumut.

Sang lelaki meletakkan kepalanya di bahu Skye.

Dan ia pun mulai menangis.

.

.

.

10: Skye


Kali pertama mereka bertemu, Skye adalah teman sebangku Finn Sinclair di kelas Pengantar Mantra.

Mereka mempelajari dasar-dasar mantra sekaligus melatih sihir sederhana hari itu—bagaimana memindahkan benda tanpa menyentuhnya. Profesor Harwood mempraktikkannya lebih dulu—mengarahkan telunjuk pada objek yang dimaksud, kemudian beralih menunjuk tempat kosong di sampingnya. Buku yang dijadikan objek percobaan langsung bergeser, sementara para siswa tampak kagum dan tak sabar untuk melakukannya sendiri.

“Semakin berat dan besar objeknya, maka akan semakin sulit bagi kalian untuk memindahkannya. Jangan lupa untuk mengucapkan mantranya. Kalau kalian kesusahan, kalian boleh mengucapkannya secara lantang.”

Seruan “berpindah” langsung terdengar di sana-sini; beberapa dilakukan dalam bisikan serta kening yang mengernyit penuh konsentrasi, yang lain memilih untuk meneriakkannya keras-keras penuh percaya diri. Mantra, menurut penjelasan Profesor Harwood, sesungguhnya tak jauh berbeda dari kata-kata yang mereka pergunakan sehari-hari. Yang perlu kaulakukan hanyalah menyalurkan kekuatan serta niatmu ke dalamnya, menjalin sihir dengan tiap perintah, sehingga kata-kata pun tidak lagi menjadi deretan huruf semata.

Kenyataan tidak semudah teorinya.

Kau harus bisa mengendalikan kekuatanmu, mengira-ngira seberapa besar sihir yang harus dikeluarkan. Kemudian, saat kau sudah berhasil menentukannya dengan tepat, kau masih perlu menggabungkan kekuatan itu dengan kata-kata yang terucap. Sebagian besar siswa tidak bisa langsung melakukannya, sehingga Skye pun merasa lega saat mendapati bahwa ia tidak sendirian.

Namun, satu jam pelajaran lantas berlalu dan hampir semua siswa bisa melakukannya.

Hampir.

Karena di samping Skye, ada Finn yang tengah mengamati kuasnya—objek yang harus ia pindahkan—dengan frustrasi.

“Teruslah berlatih dan jangan mudah menyerah!” Begitu kata Profesor Harwood saat ia menutup kelas, menepukkan tangannya sekali untuk meraih atensi. “Semua membutuhkan proses, dan tidak semua orang akan berhasil pada saat yang sama. Waktu kalian akan tiba, jadi teruslah mencoba! Mengerti?”

Semuanya mengiakan dengan seruan semangat, termasuk Skye yang sama sekali belum berhasil melakukannya. Ini baru hari pertama, pikirannya menenangkan. Tidak apa-apa, kau masih bisa mencoba.

Skye terus mengatakan hal itu pada dirinya sendiri, menggenggam kuas serta buku-buku miliknya, sampai ia sadar bahwa ia tidak perlu berlatih seorang diri.

“Eh… um, tunggu sebentar!” Ia bergegas menjajari si anak lelaki saat mereka keluar dari kelas, membuatnya terkejut hingga nyaris tersandung. Skye mengabaikannya, tersenyum lebar saat ia menawarkan, “Kau mau berlatih denganku?”

“Apa?”

“Berlatih sihir tadi,” ulang Skye, menunjuk barang-barang yang dibawa Finn. “Aku juga belum bisa melakukannya, jadi….”

“Kau yakin mau berlatih denganku?”

“Kenapa tidak?” Skye mengangkat bahu. “Kakakku mungkin bisa mengajari, tapi ia cerewet sekali. Kupikir, akan lebih menyenangkan kalau kita berlatih bersama saja.”

“Kau berpikir begitu?”

“Ah…” Skye menggaruk tengkuk, mendadak malu dengan dirinya yang bersikap sok akrab. “Tidak apa-apa jika kau tidak mau, sih. Maaf, aku—“

“Aku mau.” Finn menjawab cepat, lantas menunduk saat Skye menatapnya. “Asal… asal kau tidak keberatan?”

“Kenapa aku harus keberatan?”

Yang ditanya tidak menjawab, namun Skye memutuskan untuk mengabaikan itu. Lagi pula, ia tidak akan menarik kata-katanya lagi. Tidak karena kegagalan adalah bencana baginya, sesuatu yang pasti akan diungkit ayah dan ibunya di rumah sebagaimana mereka selalu membanding-bandingkan Skye dan Jim selama ini.

Mereka berkenalan setelah itu, mengambil kursi yang bersebelahan di kelas-kelas berikutnya, dan menghabiskan istirahat makan siang dengan berbagi roti lapis sambil duduk-duduk di halaman Akademi Mirwall. Keduanya sepakat untuk mulai berlatih saat pulang sekolah nanti.

Rutinitas pun lama-lama terbentuk. Skye jauh lebih senang menghabiskan waktu bersama Finn, dibandingkan dengan teman-temannya yang cenderung membicarakan betapa lambatnya ia dalam menyerap pelajaran. Begitu pula halnya dengan Finn, yang memang tidak terlalu suka beramah-tamah tapi tak menolak presensi Skye dalam hidupnya. Terlebih, Skye mendapati bahwa Finn sebenarnya jago dalam hal teori. Kawan lelakinya itu bisa membuat berbagai macam pelajaran menjadi lebih mudah untuk dipahami, memberitahu Skye bahwa—secara teori—gadis itu telah melakukan kesalahan dalam hal mengalirkan kekuatan sihirnya.

“Kau tidak bisa hanya membayangkannya,” tegur Finn pada kali ketiga mereka berlatih, alis dikerutkan. “Di buku tidak seperti itu.”

“Aku tidak paham kalimat buku.”

Finn mendesah, tapi ia meraih kuas dan menggambar sebuah bola benang di atas perkamen. “Anggap kekuatan sihirmu seperti bola benang ini. Kau tidak bisa hanya membayangkan kalau kekuatan itu ada, kemudian berharap mantramu berhasil. Kau harus…” Finn menyentuh bola itu dengan ujung jarinya. “…kau harus merasakannya, Skye. Meyakini kalau kekuatanmu memang ada, kemudian membiarkannya mengalir.” Satu garis meliuk ia gambarkan, meluncur keluar dari bola benang itu. “Tapi, ingatlah bahwa kau yang menentukan seberapa panjang benang yang harus diulurkan. Ingat itu baik-baik.”

“Finn….”

“Jangan pernah lupakan itu.”

Skye mengangguk, kendati saat itu ia tak paham mengapa Finn terlihat begitu serius. Alih-alih mencari tahu, Skye memilih untuk lekas melaksanakan sarannya. Ujung jari terarah pada kuas milik Finn, seraya ia mempraktikkan apa yang baru saja diajarkan.

Sang gadis membiarkan sebelah kelopaknya terbuka untuk mengintip, mencari-cari gulungan benang sihir miliknya. Sedetik kemudian, saat ia merasakan getaran kecil merambat ke ujung telunjuk, ia pun berbisik, “Berpindah.”

Respons pertama yang ia rasakan adalah genggaman erat Finn di pergelangan tangannya. Skye membuka mata, menggeser sedikit telunjuknya ke arah kiri, dan kuas sang lelaki pun menggelinding mengikuti perintahnya.

“Kau berhasil,” bisik Finn kagum.

Skye membenarkan, helaan napas lega meluncur keluar dari bibirnya. “Giliranmu, Finn.”

Berbeda dengan Skye yang tadi langsung mencoba, Finn tampak enggan. Ia tidak langsung mengangkat tangannya ataupun berusaha mencari bola benang sihir di dalam dirinya. Ia hanya duduk, memandangi kuas yang tadi telah dipindah Skye dengan sorot sendu.

“Aku tidak… aku tidak yakin kalau….”

“Kau bisa meyakinkanku, Finn. Jadi, kenapa tidak?”

Keduanya bertukar tatap. Finn tampak ingin menjelaskan sesuatu, tapi tak ada kata yang meluncur keluar dari sana. Ia hanya diam, tetap diam, dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak menjelaskan. Telunjuknya terangkat, ujungnya terarah pada kuas di atas meja seraya ia berkemam, “Berpindah.”

Tidak ada yang terjadi.

“Mungkin kau….”

Finn memotongnya dengan gelengan tegas. “Secara teori, aku bisa menjelaskannya. Tapi, hanya itu. Aku tidak akan pernah bisa melakukan ini.”

“Finn—“

“Sudah larut. Ayo kita pulang.”

Begitu saja, dan Finn langsung merapikan barang-barangnya serta beranjak pulang. Skye mengikuti di belakangnya dalam diam, bertanya-tanya apakah ia barangkali telah menyinggung Finn dan membuat lelaki itu marah kepadanya. Mungkinkah lelaki itu kesal, karena Skye bisa melakukannya lebih dulu? Apa ini berarti Finn tidak akan mau mengajarinya lagi?

Namun, hari esok tiba dan Finn kembali menjadi Finn yang biasa. Ia masih duduk di samping Skye, masih makan siang bersamanya, masih mengajari dan membantu sang gadis mengerjakan tugas-tugas sekolah. Satu-satunya hal yang tidak ia lakukan adalah mengungkit-ungkit kemampuan sihirnya—atau setidaknya, ia tidak melakukan itu sampai Profesor Harwood mengadakan sebuah tes kecil di kelas Pengantar Mantra.

Sang guru meminta mereka untuk memilih dan memindahkan benda apa pun yang mereka mau. Semakin berat dan semakin jauh jaraknya, maka nilai yang diberikan pun akan semakin tinggi. Skye memilih buku tulisnya waktu itu, memindahkannya dari meja milik Profesor Harwood ke mejanya sendiri.

Lalu, giliran Finn tiba dan Skye bisa melihat betapa muramnya lelaki itu.

Finn memilih untuk memindahkan segumpal kertas, yang hanya berhasil ia geser sepanjang satu petak ubin batu kelas. Kekuatan sihirnya seolah lesap di tengah mantra, meninggalkan bola kertas itu untuk sedikit berguling menyedihkan karena tiupan angin. Beberapa siswa mengolok-oloknya, mengatakan bahwa sebuah tendangan kaki bisa menghasilkan perpindahan yang jauh lebih besar dibandingkan sihir milik Finn.

Profesor Harwood memberinya senyum kecil. “Tidak apa-apa, Nak. Aku bisa melihat usahamu.”

Kekeh tawa terdengar makin membahana, dan Skye sudah hampir berteriak melawan ketika Finn berjalan ke arahnya. Lelaki itu mengajaknya ke sudut kelas, berusaha untuk menenangkan Skye yang tampaknya masih panas oleh amarah.

“Tidak apa-apa, Skye.”

“Tidak apa-apa bagaimana, mereka—“

“Aku tahu kemampuanku, aku tidak akan bisa melakukannya.”

Skye tampak tidak mengerti. “Mengapa, Finn? Mengapa kau berkata seperti itu?”

Sebagai jawaban, Finn memilih diam. Biarkan ekspresi sendu dan berjarak itu kembali muncul di wajah, selagi ia meremas tangan Skye sepintas. Sama seperti ketika mereka berada di perpustakaan, Finn memutuskan untuk menyimpan rahasianya rapat-rapat. Biarkan Skye bertanya-tanya seorang diri, biarkan waktu berlalu sementara persahabatan mereka makin terjalin.

Sampai tahun ajaran kedua tiba.

Lalu, Finn pun mengisahkan segalanya.

.

.

.

.

.

  1. I suppose to post chapter 8 or 9 of my novel project, but since I made a little change and all, I decided to publish all ten chapters (and yes, this will be the only excerpt) at once.
  2. Currently on 210 pages and 51k of word counts. I have two chapters left, and I hope to finish this first novel of mine by the end of July.
  3. Last but not least, thank you for your support and please wish me luck so I can publish my first baby later and make my debut huhuhuhu! Thank you and I love you! ❤

 

Advertisements

2 thoughts on “Excerpt: No Limit

  1. Aamiin kaaak aamiin semoga dilancarkan nulisnya dan beneran jadi versi cetaknyaaa uwuwuww :33

    Lagi2 aku menganggap jim sama skye as park siblings 😦 their characters are too strong so i have to remind myself that they are different :””

    Anw, semangat terus ya kak amer ^^ cheers :)))

    Like

  2. huhuhu makasih doanya yaa! semoga beneran bisa jadi deh, apalagi sekarang tinggal kurang sedikit gini :””

    hahaha, tbh skye and jim are actually made of park sibs with a bit of modification, jadi ya begitu deh masih ada yang suka kecantol, aku sendiri pas nulis pernah hampir salah ngetik jadi jimin dan malah baper /plak/

    yep, makasih yaaa! ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s