On Ice: #1 Summer and Off-Season Times

Park Jimin, Park Minha, Jeon Jungkook, Kim Taehyung

Kim Namjoon, Jung Nana, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok

chaptered | Figure Skating!AU, Family, Friendship, Life, Rivalry, Sport | 13

.

loosely based on Yuri!!! On Ice; inspiration from real-life figure skater will be cited in after-post notes

.

world-building, characters’ introduction, and figure skating terms

.

Everything matters for us happen on this ice.

.

.

.

Summer and Off-Season Times


Morning, Joon.”

Pukul enam pagi. Terlepas dari fakta bahwa ini adalah musim panas, udara masih terasa terlalu dingin untuk beraktivitas. Atau mungkin, ini ada hubungannya dengaan lokasi kerja paruh waktu Namjoon—yang mana tujuh puluh persen dari lantai satunya ditutupi oleh es. Apa pun itu, yang jelas tubuh Namjoon masih terasa kaku dan pegal lantaran ia jatuh tertidur di atas meja semalam.

Namun, kontras dengannya, gadis di hadapan Namjoon itu malah sudah bersimbah keringat. Rambut sebahunya diikat kuncir kuda, sementara jaket timnya yang berwarna putih tersampir di lengan. Ia hanya mengenakan atasan tanpa lengan dan celana legging hitam, tangannya yang tak membawa jaket menenteng sepatu ice skating putih yang dihiasi bordiran huruf ‘M’ emas mungil.

Namjoon menaikkan alis, melirik kalender yang ada di meja konter sebelum membalas, “Kurasa ini agak terlalu awal?”

“Hanya tiga hari.” Park Minha mengedikkan bahu, mengulurkan telapak. “Kuncinya, please? Kau tidak keberatan, kan?”

“Tidak.” Namjoon mengambil kunci untuk pintu yang mengarah ke ice rink, mengasumsikan jika Minha ingin segera meluncur di atas es alih-alih melakukan pemanasan tambahan di lantai dua—tempat gym berada. “Apa ini karena….”

“Berita menyebar cepat, huh?” Minha menyambar kunci dari tangan Namjoon, ikut melirik kalender. Hari Jumat. Seharusnya, ia baru mulai berlatih Senin besok. Namun, Minha sudah tak betah berada di apartemennya. “Kak Seokjin sedang berkunjung.”

“Pagi-pagi begini?”

“Mau bagaimana lagi?” Minha bergerak menuju pintu. Namjoon membuntutinya, teringat pemberitaan yang muncul semalam. “Mengumumkan hal semacam itu lewat akun media sosialnya….”

“Apa semua baik-baik saja?”

Pertanyaan bodoh, Namjoon tahu. Tapi, ia sendiri juga sama terkejutnya dan tak tahu harus merespons bagaimana. Belasan tahun saling mengenal, namun terkadang ia masih tak bisa menebak dan memahami segalanya.

Di sampingnya, Minha berubah muram. Gadis itu memilih untuk melangkah masuk dan menghampiri salah satu bangku panjang yang berjajar di tepian rink, lantas duduk dan melepas sepatu larinya. Tatapnya terus tertuju ke bawah, selagi tangannya beralih mengambil sepatu ice skating dan mulai mengurai tali-talinya.

“Kau tahu bagaimana kondisi kami, kan?”

Namjoon—yang sudah ikut mendudukkan diri—menoleh cepat. Ia punya dugaan, hanya saja ia tidak menyangka jika firasatnya itu tepat pada sasaran. “Uh… ya?”

“Ia bilang, ia kehilangan inspirasi.” Helaan napas terdengar. Sepatu skating putih itu sudah terpasang di kaki kanan Minha, sementara pasangannya masih tergeletak di atas lantai. Minha meraihnya, berkonsentrasi pada kaki kiri sambil melanjutkan, “Tiga hari lagi, dan sementara aku sibuk memilih musik yang akan kugunakan, ia tidak melakukan apa-apa. Aku terus-menerus melihatnya mengurung diri di kamar, dan itu membuatku gila. Aku….” Minha menggigit bibir sekarang, tangannya berhenti mengikat selama sejenak. “Aku takut jika itu memengaruhiku, membuatku terkena serangan panik atau semacamnya. Aku tidak tahu apa yang ia inginkan, tapi aku tahu apa yang kuinginkan.”

“Kau belum ingin berhenti.”

“Kurasa ia juga tidak ingin berhenti.” Minha menyambar cepat, mencoba meyakinkan diri sendiri. “Maksudku adalah… aku masih ingin berada di podium. Dengan medali emas, dengan sesuatu yang bisa kubanggakan. Itu yang aku inginkan, Joon.”

“Aku tahu.” Hanya itu yang perlu Namjoon ucapkan, lantaran ia tahu bahwa berdebat tak ada gunanya. Orang-orang mungkin boleh berkata bahwa mereka bangga dengan pencapaian Minha selama ini, tapi bukan berarti Minha bisa merasa puas begitu saja. Kecemasan yang senantiasa hinggap di kepala adalah salah satu penyebabnya, alasan mengapa gadis itu terobsesi dengan kesempurnaan dan enggan menyerah begitu saja.

Namjoon tahu itu. Ia tahu seberapa parah gangguan kecemasan yang diderita sahabat masa kecilnya, dan ia paham apa alasan di balik kekhawatiran serta kekesalan Minha saat ini. Bagi sang gadis, perasaan cemas dan panik itu sudah nyaris seperti kawan yang kerap berkunjung. Mengesalkan, namun juga akrab dan—pada sebagian besar hari—mudah untuk diabaikan. Sayangnya, hal yang sama tak lantas berlaku bagi saudara kembar gadis itu.

Karena bagi Park Jimin, rasa cemas, tidak percaya diri, serta ketakutan itu hanya datang sesekali. Jarang, tapi selalu menghantam dengan kekuatan yang tak terduga. Dan kalau sudah begitu, bahkan ia sekalipun tak tahu harus melakukan apa. Kecemasan berlebih bukanlah sesuatu yang rasional, bukan pula sesuatu yang mudah untuk disingkirkan begitu saja. Akan ada waktu yang terbuang, akan ada hal-hal tak terduga yang mendadak terjadi.

Keputusan Jimin untuk mengambil rehat dari dunia kompetisi adalah contoh dari salah satu hal tak terduga itu.

“Menurutmu….”

“Kau sudah berbicara dengannya?”

Minha menggeleng. “Mungkin nanti. Seperti yang kubilang tadi, akhir-akhir ini ia terlihat… kosong. Aku tidak tahu apa persisnya yang ia pikirkan.”

“Mungkin ia benar-benar butuh waktu untuk dirinya sendiri,” ujar Namjoon, mencoba menenangkan. “Tiga kali juara dunia… itu bukan main-main, kan? Dan setelah sekian banyak kemenangan, barangkali ia hanya… entahlah, ingin berhenti sejenak dan memikirkannya? Mencoba mencari tantangan baru untuk ditaklukkan?”

“Begitukah?”

“Itu masuk akal, meski aku tetap menyarankan agar kau bicara padanya,” sahut Namjoon cepat. “Lagi pula, kaulah yang memahaminya lebih dari apa pun juga. Dan ice skating adalah hidup kalian, sesuatu yang aku yakin tak akan ia abaikan begitu saja. Tanya saja pada Nana, ia pasti akan setuju denganku.”

Yeah.” Minha membuang pandang ke es yang membentang, bangkit berdiri dan berjalan menuju ice rink. Setelah melepaskan sepasang skate guards-nya dan meletakkan benda itu di atas tembok pembatas rink, ia pun langsung meluncur. Biarkan kata-kata Namjoon bergema di benaknya, selagi ia mencoba untuk berdamai dengan pikirannya dan membiarkan gerakan demi gerakan, putaran demi putaran, untuk mengambil alih fokusnya.

Benar, ice skating adalah hidup mereka, satu-satunya hal yang mereka pedulikan sejak berusia delapan tahun. Tentunya, Jimin tidak akan membuang semuanya begitu saja, bukan? Kakaknya itu pasti punya rencana, apa pun untuk mempertahankan bagian terpenting dari hidup mereka agar tak terlupakan dan terkikis waktu.

Minha menghela napas, meluncur cepat, dan mengambil ancang-ancang. Kaki kanannya terayun lebih dulu, dan sepersekian sekon berikutnya, ia sudah melontarkan diri dan membentuk dua setengah putaran di udara. Sebuah double Axel. Sedikit keterkejutan muncul di benaknya saat ia berhasil mendarat dengan mulus, diikuti tepuk tangan riuh Namjoon yang masih berada di sisi rink.

Ia kembali meluncur, bersemangat. Kegelisahannya lenyap, digantikan dengan sebuah ide yang mendadak muncul di dalam benak. Double Axel mungkin bukan masalah besar baginya—tidak karena ia sudah mempelajari dan mempraktikkan elemen itu selama bertahun-tahun. Namun, bagaimana jika ia mengubahnya sedikit?

Bukan hal yang mustahil memang, tapi begitu jarang dilakukan. Ditambah lagi, ia pasti akan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Idenya ini adalah sesuatu yang impulsif, namun juga membuatnya tertantang pada saat bersamaan.

Lagi pula, jika ia berhasil, ia mungkin bisa membawa kakaknya untuk kembali meluncur di atas es.

Jadi, tidak ada salahnya jika ia mencoba, kan?

.

.

.

“Mereka tidak akan mengizinkanmu untuk beristirahat musim ini.”

Mereka yang dimaksud adalah Korea Skating Union—organisasi yang bertanggung jawab atas olahraga favorit sekaligus karirnya selama ini. Jimin tahu itu, tapi ia tetap enggan membuka mulut sementara Seokjin menuangkan telur yang sudah dikocok ke atas penggorengan.

Winter Olympics akan diadakan musim ini. Di Pyeongchang.” Seokjin melanjutkan, seolah ia perlu memperjelas. “Semua orang di negara ini mengharapkanmu untuk berdiri di podiumnya, paling tidak sekali lagi.” Sang lelaki kini membuka kulkas, mengeluarkan sebungkus roti tawar yang masih utuh dan belum dimakan. “Aku tidak ingin menghakimimu, Jimin. Jadi, paling tidak, beri aku penjelasan agar aku bisa membantumu.”

Senyap kembali datang. Dari tempatnya duduk di ruang tengah, Jimin mengamati figur Seokjin yang tengah sibuk menyiapkan sarapan. Keinginan untuk bercerita seketika menyeruak muncul, menggantung di ujung lidah lantaran ia tahu bahwa Seokjin bisa dipercaya. Lagi pula, lelaki itu bukan hanya sekadar manajer baginya. Kim Seokjin adalah keluarga, kakak angkat yang bisa ia andalkan di tengah situasi macam ini.

Jimin menggigit bibir, menyandarkan punggung di sofa. Sedikit rasa bersalah datang menyerang, terlebih saat kalimat itu akhirnya meluncur keluar dari bibir.

“Jangan bilang-bilang Minha.”

“Jangan bilang-bilang apa?”

Ironis rasanya, bagaimana ia tidak bisa menceritakan apa yang ada di pikirannya pada sang saudari. Kembarannya sendiri, seseorang yang setia berada di sampingnya bahkan sejak ia belum dilahirkan. Namun, Jimin tak punya pilihan. Ini adalah jalan terbaik, ini adalah satu-satunya langkah yang bisa ia pikirkan.

“Aku….” Ia memutar badannya, menghadap Seokjin yang masih berdiri di dapur. Seokjin meletakkan telur yang baru dimasaknya ke piring, mematikan kompor sebelum membalas tatapan Jimin.

“Kau tidak benar-benar berpikir akan berhenti, kan?”

“Tidak, tidak.” Jimin menggeleng cepat, terlihat sama ngerinya dengan pemikiran itu. “Aku tidak akan berhenti, Hyung. Tidak sekarang. Tapi, aku membutuhkan ini. Aku… aku butuh waktu luang lebih banyak. Untuk menjalankan rencanaku.”

“Dan rencana ini tetap berhubungan dengan karirmu sebagai atlit?”

Kali ini, Jimin mengangguk cepat. “Seperti yang kukatakan tadi, jangan bilang-bilang Minha. Ini adalah musim yang penting baginya, dan aku tidak ingin membebani pikirannya.”

Helaan napas Seokjin terdengar selagi lelaki itu memasukkan roti ke dalam toaster. “Rencana ini… aku tidak boleh mengatakannya pada Minha? Lalu, bagaimana dengan keputusanmu untuk rehat?” Seokjin menyilangkan kedua lengan di depan dada. “Park Jimin, ini pukul enam pagi. Well, enam lewat dua puluh. Dan kau tahu di mana adikmu sekarang berada? Ia pergi untuk berlatih, seorang diri. Sadar atau tidak, kau sudah membebani pikirannya.”

“Kalau begitu, kita tidak perlu menambah bebannya,” sambar Jimin, ekspresinya mengeras. Teriakan penuh amarah itu sudah menggumpal di kerongkongan, hampir saja tersembur keluar. Jimin benci kata-kata Seokjin barusan, benci karena lelaki yang lebih tua itu menyatakan kebenaran. Ia memang sudah membebani saudarinya, tapi itu adalah sebuah pengorbanan kecil yang perlu dibuat.

Seokjin akan mengerti.

Jimin akan membuatnya mengerti.

“Aku akan mengurusnya.” Jimin akhirnya berkata, mengibaskan sebelah tangan seolah itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan. “Aku akan menyusul Minha setelah ini, berbicara dengannya. Lagi pula, aku tidak sepenuhnya berbohong. Aku memang kehilangan inspirasi, Hyung.” Satu tarikan napas, dan kali ini Seokjin terlihat lebih bersimpati. “Aku butuh tantangan, apa pun, agar aku bisa kembali berdiri di atas es tanpa merasa hampa atau kosong. Aku masih ingin kembali ke sana, tapi tidak seperti ini. Tidak ketika aku merasa bahwa penampilanku hanya akan mengecewakan.”

Tiga kali memenangkan medali emas di World Championship. Empat kali di Grand Prix Final. Satu kali saat Winter Olympics tahun 2014 silam. Dan pemegang rekor dunia untuk skor terbaik musim lalu.

Orang lain barangkali akan tertawa jika mendengar keluhan Jimin saat ini. Bagaimana mungkin si juara dunia mengecewakan? Itu terdengar mustahil, itu hanyalah kekhawatiran sesaat. Namun, Seokjin paham. Ia paham dan ia tahu benar bahwa keputusan Jimin sudah bulat.

Maka, sembari meringis memikirkan setumpuk dokumen, alasan, serta konferensi pers yang harus diurus, Seokjin pun mengangguk dan melanjutkan, “Baiklah. Jadi, apa rencana yang kaumiliki? Yang belum boleh kukatakan pada siapa-siapa?”

Jimin mengembuskan napas lega. Detik berikutnya, ia membeberkan semua rencananya. Apa yang ia inginkan, apa yang harus ia lakukan sekarang, dan mengapa ia perlu mengambil rehat selama beberapa bulan ke depan. Kata-katanya meluncur tanpa jeda, tak beraturan, tapi Seokjin bisa memahami garis besarnya.

“Aku mengerti.” Seokjin melirik toaster, melihat dua potong roti yang sudah menyembul keluar entah sejak kapan. Ia memindahkan roti itu ke atas piring, lantas memasukkan dua lembar roti lagi sebelum menghampiri Jimin. “Aku harus mengakui jika rencana itu sedikit….”

“Gila?”

“Aku mau bilang ‘menakjubkan’.” Seokjin mendorong pundak Jimin ringan. “Tapi, kita juga perlu berpikir rasional. Kau tidak mungkin absen sepenuhnya. Aku bisa mengusahakan agar kau tidak perlu mengikuti Grand Prix, dan mungkin Four Continents. Hanya saja, untuk Winter Olympics dan Worlds….” Sebelah tangannya terangkat untuk memijat pelipis, meski opsi itu sudah jelas di depan mata. “Kita harus berkompromi, Jimin. Rencanamu ini… bisakah kau menyelesaikannya tepat sebelum Winter Olympics dimulai? Bisakah kau melakukannya sembari menyiapkan dua program baru?”

Yang ditanya tak butuh waktu lama untuk berpikir, seolah diam-diam ia sudah memprediksikan pertanyaan ini sebelumnya.

“Aku boleh menggunakan program lamaku, kan?”

Seokjin menjungkitkan alis. “Kau bermaksud melakukan modifikasi pada program lamamu?”

“Kurasa itu cara terbaik. Lagi pula, secara teknis aku tidak melanggar peraturan.” Jimin mengedikkan bahu. “Soal rencanaku… aku akan berusaha untuk menyelesaikannya selama Grand Prix berlangsung. Dan ya, aku juga akan memodifikasi program lamaku. Itu cukup?”

“Kau benar-benar sudah memikirkan ini, ya?”

“Keputusanku sudah bulat sejak semalam. Kalau tidak, untuk apa aku memamerkannya di media sosial?”

Menggeleng-gelengkan kepala, Seokjin hanya mampu berdecak tak percaya. Satu lagi hal yang harus ia urus, mengingat pekerjaannya sebagai seorang manajer. Jam bahkan belum menunjukkan pukul tujuh, tapi daftar orang-orang yang harus diteleponnya sudah menumpuk.

“Aku akan meminta Dokter Kang untuk membuat surat keterangan. Lagi pula, seperti katamu, kita tidak sepenuhnya berbohong. Kau keberatan?”

“Tidak.” Jimin memejamkan matanya sejenak, tahu bahwa ini adalah harga yang harus ia bayar. Lagi pula, gangguan kecemasan serta kecenderungan depresi yang ia—dan juga Minha—miliki memang bukan rahasia. Dokter Kang—sebagai dokter pribadi keluarga Kim dan psikiater mereka—pasti mau membantu. “Maaf, aku tidak bermaksud merepotkanmu.”

“Kau punya alasan,” jawab Seokjin sederhana. “Aku tahu kalau kau tidak akan menyesali keputusan ini, Jimin. Dan meski ini memang merepotkan….” Seokjin terkekeh, nyaris membuat Jimin merasa bersalah lagi kalau saja ia tidak buru-buru mengimbuhkan, “…aku akan melakukan apa saja demi kebaikanmu. Kita ini keluarga, mengerti?”

Hyung….

“Aku tidak akan mau melihat salah satu adikku memaksakan diri, lalu terluka lagi.” Ucapan Seokjin terpotong saat ia kembali mengeluarkan roti dari toaster. “Aku hanya perlu kau berjanji bahwa kau akan melakukan yang terbaik—“

“Tentu saja.”

Seokjin kembali tergelak, dengan cekatan memotong roti dan mengoleskan mentega ke atasnya. “—dan lain kali, jangan buat pengumuman macam itu lewat media sosialmu lagi. Janji?”

.

.

.

“Kau serius, Hyung?!”

Min Yoongi memasang cengiran, menunjuk ke arah layar laptopnya dan mengundang sang kawan mendekat. Sebuah file musik sudah terpampang di sana, siap untuk dimainkan.

“Aku masih perlu membuat versi singkatnya….” Yoongi menekan tombol play, membiarkan bagian awal lagu yang bertempo lambat bergema di dalam ruangan. “…tapi, yeah. Kalau kau ingin menggunakan lagu ini untuk kompetisi, aku akan membantumu.”

Jeon Jungkook masih berdiri dengan mulut menganga lebar, tidak percaya. Di sela-sela kesibukannya sebagai atlit, ia memang sering membantu Yoongi untuk membuat musik—baik dalam hal lirik maupun sekadar meminjamkan suara. Bukan hal mudah memang, terlebih karena ia sering bepergian ke luar negeri dan jarang pulang ke apartemen mereka.  Namun, Jungkook tidak mempermasalahkannya. Yoongi sudah banyak membantu dalam hal memilih dan mengaransemen ulang musik untuk kompetisi.  Ia berutang atas itu.

“Jadi… kau mau memakainya atau—“

“Tentu saja!” Jungkook memotong, kelewat bersemangat. Sebuah lagu yang dibuat sahabatnya, lagu di mana ia ikut berpartisipasi untuk membuat liriknya, lagu yang dibawakan dengan suaranya sendiri. Dan lagu itu akan berkumandang di stadion yang tersebar di berbagai negara. Mengiringinya di kompetisi tingkat internasional, juga….

Jungkook mendaratkan tepukan keras di bahu Yoongi, begitu keras sampai lelaki yang lebih tua itu berteriak mengaduh dan memelotot tak terima.

Hyung!”

“Ini belum versi final, Jeon Jungkook. Mungkin aku butuh waktu sekitar seminggu. Selain itu, kau butuh dua lagu, kan? Apa kau sudah punya ide—“

Winter Olympics akan diadakan musim ini, ingat?” Jungkook mengguncang-guncangkan pundak Yoongi sekarang, terlihat antusias. “Itu artinya, musik buatanmu juga akan diputar di sana. Tenang saja, aku akan bekerja keras agar tidak mengecewakan!”

“Aku tahu, aku tahu.” Yoongi berusaha melepas tangan Jungkook, meringis kecil. Meski ia paham benar dengan kecintaan Jungkook terhadap ice skating, ia tetap masih belum bisa memahami olahraga itu sepenuhnya. Ia hanya tahu jika setiap atlit butuh dua lagu dalam kompetisi, dan bahwa Jungkook selalu sibuk sepanjang musim gugur hingga awal musim semi. Hanya itu. Mau berapa kali pun Jungkook menjelaskan, Yoongi pasti selalu lupa dengan jenis-jenis kompetisi yang ada serta jadwalnya.

“Ayolah, Hyung! Setidaknya kau paham kan apa artinya Olympics?”

Sebuah toyoran mendarat di kepala Jungkook.

“Kau meledekku?”

“Mereka akan mengadakannya di Korea tahun depan. Apa itu tidak membuatmu bersemangat? Lagu buatanmu, diputar di kompetisi internasional terbesar dan ditayangkan di televisi, didengar oleh begitu banyak orang? Kalau aku bisa mendapatkan tempat di podium….”

“Kau cukup percaya diri, Nak.” Yoongi pura-pura berpikir, menyipitkan mata. “Begitu percaya diri setelah berhasil mendapatkan medali perunggu, huh?”

“Tentu saja. Siapa yang tahu, bisa saja aku mendapatkan perak atau emas, kan?” Jungkook menyilangkan kedua lengan, menerima tantangan Yoongi. “Meski kurasa… musim ini pasti akan berat. Dengan Winter Olympics, yang lainnya juga pasti….” Suara Jungkook mengecil, berkebalikan dengan irisnya yang melebar lantaran ia baru saja teringat akan sesuatu. Detik berikutnya, tepukan keras sudah kembali mendarat di punggung Yoongi—praktis membuat lelaki itu mengerang.

“Mungkin kau perlu ingat kalau teman seapartemenmu ini bukan atlit yang bisa dijadikan karung tinju—“

“Kau pernah bekerja dengannya, kan?”

“Huh?”

“Park Jimin,” balas Jungkook cepat. “Aku hendak memberitahumu soal ini tadi, tapi kau sudah lebih dulu menunjukkan lagu itu dan….” Ia menggeleng, kembali ke topik pembicaraan. “Ia tidak akan berpartisipasi musim ini. Entahlah, aku belum melihat berita lagi, jadi aku tidak tahu detailnya dan—“

Ocehan Jungkook terpotong nada dering ponsel, berpadu dengan bagian akhir dari lagu yang masih terputar. Yoongi memutar kursi tempatnya duduk, menyambar ponsel, dan lekas mengerutkan kening. Panjang umur sekali.

Nama Jimin terpampang jelas di layar.

“Kau bilang ia tidak akan ikut kompetisi?”

Yeah?”

Yoongi mengangkat layar ponselnya hingga sejajar dengan wajah Jungkook, membuat temannya itu ikut-ikutan mengerutkan kening. Bingung, sementara Yoongi mengedikkan bahu dan menyentuh layar untuk mengangkat telepon. Kalau berita yang dibicarakan Jungkook itu bukan gosip semata, maka Jimin seharusnya tidak akan membutuhkan musik baru. Kecuali….

Rasa gugup mendadak merambat ke sekujur tubuhnya, selagi Yoongi berdeham untuk membersihkan suara.

“Halo? Jimin?”

.

.

.

So… how’s Detroit?”

Kim Taehyung melepas kacamata hitamnya, lantas memutar bola mata. Ia baru saja sampai di Busan beberapa menit lalu, masih dalam keadaan jet-lag dan penat bukan main. Di sampingnya, Jung Hoseok memasang senyum polos, meski ia jelas-jelas tengah berusaha untuk menggoda Taehyung. Sayang, suasana hatinya sedang buruk—dan menjadi makin buruk kala Hoseok memutuskan untuk mengangkat topik itu.

“Kau tahu kenapa aku pergi dari sana.” Taehyung membalas dalam bahasa Korea, membuang pandang. Kota Busan berubah menjadi kabur saat Hoseok menaikkan kecepatan, dengan lihai menyelipkan mobilnya di antara para pengguna jalan lain. Selama beberapa menit, tak ada yang menyambung percakapan. Taehyung menggunakannya untuk kembali mengamati pemandangan kota, menyadari bahwa ia sesungguhnya merindukan tempat ini. Terlepas dari kewarganegaraannya, keluarga besar ibunya masih tinggal di Busan. Berkunjung ke kota ini saat musim panas adalah suatu rutinitas, atau setidaknya pernah menjadi rutinitas sampai ia disibukkan dengan jadwal berlatihnya di Detroit.

Tapi, sekarang, hidupnya bergantung pada tempat ini. Karirnya dipertaruhkan, dan ia….

I know.” Hoseok memotong pikirannya, berdeham sebelum kembali ke bahasa ibunya. “Tapi, kita sudah lama tidak bertemu. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi di sana. Kau tidak… bertengkar dengan pelatihmu atau semacamnya, kan? Kudengar ia akan menyusul ke Korea beberapa minggu lagi?”

“Ayahku yang akan menyusul ke Korea. Pelatihku… kurasa ia tidak bisa pergi.” Taehyung mendengus, teringat akan memori pahit itu. “I parted ways with others in a very, very bad term. Mereka merendahkanku, dan aku tidak tahan lagi. Saat ini, aku hanya punya satu tujuan.”

Hoseok menghela napas, memfokuskan matanya pada jalanan sembari menjawab, “Kau tahu kalau aku masih mendukungmu, kan? Aku tahu tujuanmu, aku berjanji akan membantu. Tapi, kurasa, kau harus belajar untuk bersikap sedikit lebih santai. Take it slow, yeah? Kau harus belajar menikmati ini, menikmati semua prosesnya, atau bantuanku tidak akan berguna.”

“Aku tidak bisa menikmatinya, tidak kalau aku—“

“Kau putus asa, aku tahu.” Hoseok memotong, berbelok ke kiri dan menyusuri jalanan yang mengarah langsung ke apartemennya. “Maksudku adalah, lupakan mereka. Lupakan apa yang mereka katakan padamu. Mereka hanya—“

“Mereka hanya mengucap fakta dan aku tahu itu.” Taehyung mengerucutkan bibirnya, kesal. “Let’s not sugar coating things, alright? Faktanya, aku memang gagal. Aku tidak bisa memberikan pertunjukan yang mengagumkan, pun layak mendapatkan standing-ovation. Aku kehilangan tempatku di podium, padahal aku sudah begitu yakin akan membawa pulang emas. Menurutmu, di mana letak rasa maluku sekarang?”

Kali ini, Hoseok memilih bungkam. Taehyung mungkin benar, tapi sebagai sahabat terbaiknya, Hoseok tahu bahwa kemampuan Taehyung bukanlah penyebab dari semua kegagalan itu. Taehyung berbakat, dan Hoseok tahu itu melebihi siapa pun. Medali emas bukanlah sesuatu yang mustahil, andai saja….

“Dan kau tahu apa yang membuatku lebih kesal? Aku baru saja mendarat di negara ini, tepat ketika saingan terbesarku dalam kompetisi memilih untuk rehat selama beberapa bulan. Memangnya ini semacam permainan atau apa? Hanya karena ia memenangkan Worlds selama tiga kali berturut-turut, lantas ia berpikir bisa bersikap semaunya begitu?”

Sekali lagi, Hoseok memilih diam.

Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa, tidak karena ia enggan mendukung sikap Taehyung yang kekanak-kanakan ini. Baiklah, mereka memang bersahabat. Amat dekat malah, terlepas dari jarak serta perbedaan negara yang ada. Meski keduanya jarang bertemu dan terlampau sibuk dengan hidup masing-masing, namun Taehyung tetaplah Taehyung yang menyukai ice skating lebih dari segalanya.

Hoseok paham itu.

Mereka pernah berlatih ice skating bersama saat kecil dulu, meski Hoseok akhirnya memilih untuk menjadi seorang dancer dan koreografer. Lagi pula, ia tidak seberbakat Taehyung. Ia jauh lebih mencintai dance, ia bangga dengan seluruh pencapaian yang telah ia raih. Mengikuti kompetisi—baik itu tingkat nasional maupun internasional—adalah hidupnya. Dan Taehyung pun serupa. Hidupnya dipenuhi berbagai kompetisi, dipenuhi ambisi-ambisi yang menuntut untuk dipenuhi.

Sayangnya, Taehyung berbeda dengan Hoseok dalam satu hal. Kalau Hoseok senantiasa mengikuti kompetisi dengan niat mencari pengalaman sekaligus bersenang-senang, Taehyung adalah sebaliknya. Kim Taehyung adalah seorang atlit yang arogan, yang selalu sendirian karena ia tak punya teman. Ia terlalu sombong untuk sekadar memberi pujian atau dukungan, terlampau sibuk untuk bercakap-cakap dengan kompetitornya walau hanya sejenak saja. Orang-orang membicarakannya, namun Taehyung mengabaikan semua itu dan memilih untuk mendongakkan kepalanya makin tinggi.

Sampai ia menghancurkan dirinya sendiri pada musim kompetisi yang lalu.

Lupakan medali emas, Taehyung bahkan tak berhasil meraih medali perak ataupun perunggu. Kedua programnya—yang seharusnya dibawakan dengan indah dan dirancang untuk mendapatkan skor tinggi—malah berbuah ejekan. Ia gagal mengeksekusi nyaris semua elemen dalam programnya, ia bukan lagi pahlawan yang dibangga-banggakan negaranya. Apa yang ia dapat adalah angka sepuluh di depan namanya, sesuatu yang sama sekali tak terprediksi lantaran ia biasanya bisa menjadi juara tiga dalam setiap kompetisi.

Hoseok sudah mencoba bertanya, tapi amarah Taehyung malah terpancing dan mereka nyaris saja bertengkar hebat. Aku juga tidak tahu, begitu katanya. Menurutmu, apa aku mau mendapat posisi sepuluh pada World Championships secara sukarela?!

Mobilnya berhenti di tempat parkir yang berada di depan gedung apartemen. Hoseok menarik napas, menoleh ke arah Taehyung yang masih menggerutu dalam suara rendah.

“Taehyung.”

“Ya?”

“Aku ingin kau mendengarkan kata-kataku.” Hoseok mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat agar Taehyung tak menyela. Sebagai teman, melihat Taehyung jatuh ke titik terendah dan masih berusaha untuk menutupinya dengan sikap sok kuat adalah suatu hal yang menyakitkan. Kawannya itu jelas butuh pertolongan, dan satu-satunya hal yang bisa Hoseok lakukan saat ini adalah mencoba mengembalikan akal sehat Taehyung serta memastikan agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Maka, ia pun berdeham. Memberanikan diri untuk mengambil risiko, karena ia tahu Taehyung pasti tak akan menyukai idenya ini.

Let’s make a deal.”

“We already have a deal.”

“Yes, we have.” Hoseok langsung setuju, mengabaikan kerutan yang muncul di dahi Taehyung. “Dan aku tidak akan melanggar janjiku. Koreografi untuk kedua programmu adalah tanggung jawabku. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk itu, kau bisa memegang kata-kataku. Tapi, sebagai gantinya, berjanjilah padaku.”

“Janji?”

“Hanya ada satu ice rink yang dapat kita gunakan untuk berlatih di kota ini. Letaknya tak jauh dari apartemenku, dan ice rink itu memang diperuntukkan bagi para atlit.”

“Lalu?”

“Orang yang sejak tadi kaubicarakan… Park Jimin, kan? Si pemegang medali emas selama tiga tahun berturut-turut?”

Taehyung menggertakkan gigi, membuang muka.

Ice rink itu adalah home rink-nya,” lanjut Hoseok, enggan berbasa-basi, “dan saudari kembarnya juga berlatih di sana. Meski katamu ia mengambil rehat selama beberapa bulan, ia pasti masih akan datang berkunjung untuk menemani saudarinya. Ditambah lagi, semua orang tahu bahwa pemilik ice rink itu adalah salah satu sponsor mereka.” Hoseok mengambil jeda, menunggu sampai Taehyung kembali menatapnya. “Kau tahu apa artinya itu.”

“Apa?”

“Kau akan berbagi ice rink dengan mereka. Dan mungkin juga atlit-atlit lain. Jadi, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan membuat masalah.” Hoseok menyipitkan mata, lantas menekankan, “Berjanjilah bahwa kau akan bersikap ramah.”

“Itu bukan urusan—“

“Itu urusanku, Taehyung. Saat ini, kau hanyalah seorang pendatang. Kau tidak bisa membuat dirimu terlihat lebih buruk lagi. Atau kau mau diusir dan tidak punya tempat berlatih?”

“Kau mengancamku?”

“Aku hanya ingin membantu.”

“Dengan syarat.”

“Dengan syarat, ya. Sekarang, pilihannya ada di tanganmu. Take it or leave it?

Mereka bersitatap, nyaris melewatkan enam puluh detik dalam keheningan. Suasana tegang, selagi Taehyung berkontemplasi dan mungkin juga memaki tanpa suara. Kendati begitu, Hoseok tidak akan menarik kata-katanya lagi. Ini semua demi kebaikan Taehyung, meski lelaki itu masih belum bisa memahami maksud Hoseok sekarang.

Taehyung kembali memalingkan wajah, menggertakkan gigi saat jawaban itu akhirnya keluar.

“Baiklah. Fine. Lakukan saja apa yang kau mau.”

Hoseok membuang napas, lega karena Taehyung tak langsung memutuskan ikatan persahabatan mereka. “Kau janji?”

“Aku tidak punya pilihan lain, tahu?” Taehyung masih menggerutu, mendorong pintu mobil hingga terbuka dengan kasar. “Tapi, aku akan melakukan apa saja untuk kembali berdiri di podium. Hell, aku bahkan akan menjual jiwaku kalau itu yang kauinginkan.” Ia melangkah keluar, tapi menyempatkan dirinya untuk menoleh ke arah Hoseok sejenak. Tekad terbaca jelas di wajahnya, juga terpancar dari kedua irisnya yang berwarna cokelat pekat. “Jadi, buatkan aku koreografi terbaik yang pernah ada, oke?”

.

.

tbc.

.

trivia for chapter 1:

  • White skating shoes is for ladies while the black one is for men. Don’t ask me why, the competitions rules said so.
  • Notes about jumps and competitions schedule can be checked in the world-building post. I’ll add more about spins and required elements for skating program later.
  • ISU (International Skating Union) is the highest body that rules figure skating. And every countries have their own skating union, registered under ISU.
  • Winter Olympics (it’s different from the usual Olympics we know) is dedicated for winter sports only, held once every four years. The 2014 Winter Olympics (where Jimin won gold and Minha won silver in this fic) took place in Sochi, Russia, while the 2018 Winter Olympics will take place in Pyeongchang, South Korea.

.

So hello guys! Apparently I lied again lol

I suppose to start writing this around 25 August, but I got stuck with my study so… yeah. This happen. Don’t expect me to write chapter two as soon as possible, but I will try to do so between my study (I still have like 18 chapters left ugh)

Also, since skating is an international sport with a lot of international competition, almost all of the casts here can speak English pretty fluently. So I’ll still use English in the dialogues, especially when they compete around the world later.

Any questions can be dropped here or in the world-building page, I’ll try to answer them as best as I can.

See ya! ❤

Advertisements

8 comments

    1. Padahal itu masih belum konflik dan belum serusuh chapter 2 nanti /plak

      Itu yang 18 chapter aku belajarnya, masih ada 18 bab dari total sekitar…. 60an? HAHAHAHAH /ketawa pahit

      Kalau ficnya sih mungkin kaya biasa, 8 sampe 10an lah hehehe

      Makasih ya neng! ♡

      Liked by 1 person

      1. 60? Whoaaa….
        Berarti chapter 2 udah diketik ya Kak? Aku tuh kadang suka sedih kalau seriesnya kak Amer mau tamat. Berasa ga mau pisah gitu sama tokoh2nya. Bikin greget :3

        Like

      2. Namanya juga mau sidang 😂 lumayanlah ini tinggal 11 abis dikebut *muntah*

        Iya udah, udah sebaris judul sama plotline /plak/ hahaha tenang aja kan on ice masih panjaaaang (mungkin)

        Like

  1. Ga terduga, muncul tiba2 chapter satunya wkwk… Anyway, ada 18 chp lagi?? Gilaaak bakal panjang banget ini O.O

    Okay jadi ga jauh beda sama yg versi eng ya kak, bagian vhope itu kyknya tranlate ke indo gitu ya wkwkwk… Oh, bagian namjoon ama minha juga….
    More about anxiety and depression, sepertinya aku bakal suka karena lagi pengen tahu banyak soal itu…..
    Idk tapi aku ngakak baca kata penggorengan XD /gajelas/
    And most liked part…. Yoonkook’s! Suka banget liat yoongi kyk big brother yg sayang sama adiknya gitu trus ucul juga tuh si mz yoon gapaham apa2 soal ice skating XD XD Dan ketika dia panggil jungkook pake sebutan ‘Nak’, aku baper wkwkwk

    So far aku suka sama alurnya…. Jadi kepo pengen nonton ice skating sekali biar paham wkwk

    Like

    1. Ya gitu habis aku bosen belajar jadi…. /plak/ btw yang masih 18 chapter itu aku belajarnya 😂😂 (ya sekarang tinggal 8 sih) kalau ficnya standar lah ya 8-10 mungkin hehehe

      Wkwk namanya aja remake, jadi bagian plot yang nggak berubah emang aku translate ((serius pas ngetik buka dokumen yg eng ver lalu diindonesiain lol))
      Dan sebenernya aku bingung mau nulis wajan apa penggorengan tapi penggorengan entah kenapa terdengar lbh elit (??)
      Hahaha tunggu aja sampe part depan, nanti mas yoon nggak ucul lagi *senyum jahat*

      Hehe nonton aja seru kooook /promosi/ atau bisa liat lewat video yg ada di page world-buiding hehe soalnya itu perform yg reccommended /mendadak jadi duta ice skating/

      Makasih ya ratih! Jangan kaget kalo pt 2 tau2 nongol minggu ini 😂😂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s